Rabu, 16 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 16 Mei 2012 | 20:58 WIB
Impor Pangan Meningkat
| Senin, 25 Februari 2008 | 18:50 WIB
|
Share:

Kristianto Purnomo
Hasiah (kanan), pedagang beras, menunggu pembeli di depan kiosnya, di Pasar Palmerah, Jakarta Pusat, Jumat (25/1). Akibat kenaikan harga beras yang mencapai rata-rata Rp 1.000 untuk semua kualitas sejak bulan Desember tahun lalu, pedagang mengaku sepi pembeli dan mengalami kerugian 30-40 persen. Kristianto Purnomo (KP) 25-1-2008

TERKAIT:

JAKARTA, SENIN - Impor pangan di Indonesia menunjukkan peningkatan. Salah satunya yakni impor kedelai yang naik menjadi 55 persen dibanding tahun lalu yang cuma 45 persen. Kecenderungan pemerintah melakukan impor pangan disebabkan pola pikir pemerintah bahwa yang penting dari ketahanan pangan adalah ketersediaan pangan untuk masyarakat yang cukup tanpa memperhatikan produktivitas pangan dalam negeri.

"Ketahanan sekarang dipersepsikan hanya soal ketersediaan pangan. Kita agak lengah dengan bagaimana sumber dari ketersediaan itu. Ini menyebabkan kita melihat adanya tren impor pangan yang makin meningkat," kata Ferry J Juliantono, Ketua Umum Pimpinan Pusat Dewan Tani Indonesia di Hotel Bumikara, Jakarta, Senin (25/2) usai hadir sebagai pembicara pasa seminar Penguatan Strategi Ketahanan Pangan Nasional, Senin (25/2).

Peningkatan impor pangan ini, nilai Ferry, bersumber pada pola pikir tim ekonomi pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang lebih menekankan ketersediaan pangan meskipun melalui impor.

Menurutnya, untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional saat ini, negara harus mengambil alih peranan menjaga menjaga ketahanan pangan. Pemerintah bisa mengoptimalkan kembali sebuah lembaga semacam dewan ketahanan pangan yang diketuai Presiden RI, ketua hariannya yakni Menteri Penerangan, dan di bawahnya adalah menteri-menteri yang terkait dengan bidang pertanian.