JAKARTA, SENIN - Perum Perhutani menargetkan perolehan laba bersih pada 2008 senilai Rp95,5 miliar dari target pendapatan Rp2,4 triliun.
Direktur Keuangan merangkap Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Umum Perum Perhutani, Tjipta Purwita, di Jakarta, Senin (10/3), seperti dikutip dari Antara, mengatakan, target pendapatan sebesar Rp2,4 triliun tersebut lebih tinggi dibandingkan target pendapatan tahun 2007 sebesar Rp2,3 triliun, sehingga terdapat kenaikan Rp100 miliar.
"Perolehan laba sebelum pajak kita rencanakan Rp136 miliar, dan laba bersihnya Rp95,5 miliar. Ini sudah melalui Rapat Pembahasan Bersama (RPB), tetapi masih menunggu pengesahan dari Kementerian BUMN," ujar Tjipta.
Menurut dia, pengesahan belum dilakukan karena adanya perubahan nilai tukar rupiah dari sebelumnya Rp9.300 per dollar menjadi Rp9.100 per dolar. Oleh karena itu, Perhutani juga terpaksa melakukan perubahan target profit untuk 2008 ini.
Sementara itu, saat ditanya kecilnya laba yang diperoleh oleh Perhutani di tahun 2007 lalu yang hanya mencapai Rp111 milar dari target pendapatan Rp2,3 triliun, Tjipta mengatakan, fenomena bencana alam 2007 mempengaruhi pendapatan Perhutani.
Menurut dia, turunnya mutu kayu pinus eksbencana yang merubah realisasi pendatapan dari yang telah direncanakan. Pohon pinus yang rebah akibat bencana alam harus segera ditarik. Akan tetapi, akibat akses jalan di daerah bencana tidak ada, keterlambatan tersebut mengakibatkan turunnya mutu kayu.
Selain itu, dia mengatakan, harga produk non kayu yakni gondorukem (resina colophonium) yang merupakan olahan dari getah hasil sadapan pada batang pinus tidak sesuai dengan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) karena penurunan harga di China. Kenaikan produksi gondorukem China dari 600.000 ton menjadi 850.000 ton juga mempengaruhi harga di pasar internasional.
"Turunnya hampir 100 dollar AS di pasar internasional. Kita hanya mengikuti mekanisme pasar dan itu mengurani pendapatan kita, apalagi produksi kita hanya 55.000 ton," katanya.


