Kamis, 21 Agustus 2014

/ Megapolitan

Memburu Permata di Jatinegara

Kamis, 20 Maret 2008 | 16:46 WIB

JAKARTA, KAMIS – Jika Anda pemburu permata, Anda tak perlu lagi panas-panas ke Pasar Rawabening. Mungkin tepat bagi Anda untuk datang ke basement Pusat Grosir Jatinegara (PGJ).

Mulai dari sebulan hingga dua minggu yang lalu, para pedagang permata dan batu-batu mulia yang biasanya berjualan di pasar Rawabening sepakat pindah ke Pusat Grosir Jatinegara karena bangunan di Rawabening yang sedang dibenahi. Beberapa memang masih bertahan di pusat penampungan di sebelah kiri Pasar Rawabening. Alasannya tidak memiliki cukup uang untuk membeli atau mengontrak kios di tempat yang baru ini.

Para pedagang permata dan batu-batu mulia yang pindah ke PGJ mengaku lebih puas untuk berjualan. Jika di Rawabening mereka harus berpanas-panas, di PGJ mereka merasa lebih aman dan nyaman. Selain itu, customer mereka juga lebih mudah menjangkau tempatnya dan lebih puas dengan fasilitas yang ada.

“Lebih enak di sini memang. Nyaman, parkirnya luas, ber-AC dan aman. Kalau di Rawabening gitu kan agak kumuh ya. Pelanggan-pelanggan saya juga lebih nyaman belanjanya. Di sini juga kita dan pelanggan merasa lebih aman aja untuk bertransaksi. Pelanggan juga menjadikan tempat ini sebagai basecamp, tempat mereka bertemu. Utamanya pelanggan-pelanggan dari luar Jakarta,” ujar Kesuma yang sudah kurang lebih 35 tahun berbisnis permata ketika ditemui Kompas.com di PGJ, Kamis (20/3).

Sultan, yang baru satu tahun membantu ayahnya berbisnis permata di PGJ juga membenarkan pernyataan Kesuma. Dengan kepindahannya ke PGJ, dia merasa para pelanggannya juga akan terpuaskan. “Pelanggan kan juga lihat servisnya ya, termasuk kenyamanan. Di sini kan lebih dingin, ada AC, lebih nyaman aja dibanding di Rawabening dulu,” ujar Sultan.

Kesuma juga menambahkan kualitas-kualitas permata dan batu-batu mulia yang dijual di PGJ tidak berubah. Bahkan mungkin lebih bagus karena di tempat ini memungkinkan bagi para pedagang untuk memiliki peti besi untuk menyimpan produk-produk mereka yang jauh lebih berkualitas. “Kalau di Rawabening mana mungkin, repot untuk punya peti besi,” tambah Kesuma.
 
Harga tak Berubah, Optimis Untung

Perubahan tempat berbisnis pada umumnya berdampak pada perubahan harga produk yang dijual. Namun, Kesuma mengaku harga permata yang dijualnya tidak mengalami kenaikan bahkan cenderung lebih murah.
“Iya malah lebih murah karena untuk memperkenalkan ya harus ada istimewanya. Ya lebih murah itu. Malah saya beli dari teman-teman yang jualan di sini juga lebih murah,” ujarnya.

Kesuma juga mengaku, meskipun masih baru, baginya penjualan batu permata di kiosnya sudah cukup memuaskan dan dia optimis akan dapat meraup keuntungan yang lebih besar. “Ya, setiap hari laku satu sampai tiga lah rata-rata. Ini baru lho padahal. Belum dari langganan-langganan saya,” kata ibu yang sebelumnya memiliki pengalaman yang luas dalam dunia hukum ini.

Kesuma sendiri tidak hanya memiliki pelanggan di Jakarta, tapi juga luar Jakarta, bahkan luar negeri. Para pelanggannya datang dari Bali, Surabaya, Palembang, Jambi dan Medan, juga Hong Kong.

Hal yang sama juga diakui oleh Maulana, salah satu pedagang batu akik. Dia mengaku cukup puas dengan penjualan batu akiknya sejak pindah ke PGJ. “Ya seminggu lumayanlah. Bisa sampai 400 ribuan,” ujarnya.

Harga Kios Masih Mahal

Meski puas dengan fasilitas yang ditawarkan, Kesuma dan Sultan juga mengeluhkan mahalnya harga kios yang dipasang oleh pihak developer PGJ. Para pedagang yang masuk diperbolehkan menyewa atau membeli langsung kios-kios yang tersedia. Kesuma mengaku dia harus membayar kurang lebih Rp 800 – 900 juta untuk sebuah kios di PGJ seluas 5,5 x 2,5 meter.

“Di sini harga per meternya Rp 70 juta. Ya agak keberatan sih sebenarnya dengan harga itu. Kalau dibandingkan dengan Blok M yang sudah jadi pusat perbelanjaan terkenal di Jakarta Selatan aja itu cuma Rp 60 juta per meter-nya,” ujar Kesuma.

Begitu pula Sultan yang tidak membeli kios namun menyewa. Menurut Sultan, para pedagang yang menyewa harus membayar uang sewa antara Rp 4-6 juta per tahunnya. “Saya bayar Rp 6 juta setiap tahun untuk kios saya. Setiap kios beda-beda, antara Rp 4-6 juta tergantung letak kiosnya,” ujar Sultan yang masih berkuliah di salah satu universitas swasta di Jakarta.

Sultan menambahkan bahwa untuk satu tahun pertama ini, pihak PGJ masih memberi masa percobaan bagi para pedagang. Barulah di tahun berikutnya, PGJ memberlakukan sewa dengan sistem booking-fee. “Kalau booking-fee artinya kios itu sudah dibuat atas nama kita, meski kita ngontrak. Di tahun-tahun selanjutnya, pihak developer nggak boleh seenaknya ngoper-ngoper kios ke orang lain tanpa persetujuan kita kalau kita masih ingin sewa di situ,” tambahnya.

Memang uang sewa atau beli kios di PGJ mungkin lebih mahal dibandingkan uang sewa di pasar Rawabening. Namun, baik Kesuma maupun Sultan optimis dengan prospek tempat dan fasilitas yang disediakan PGJ dalam mendukung perjalanan bisnis permata dan batu mulia mereka. (LIN)


Editor :