JAKARTA, SABTU - Bank Tabungan Negara tidak akan tergesa-gesa untuk melaksanakan penawaran saham perdana atau IPO di pasar modal.
Hal itu terkait dengan kondisi pasar modal sekarang yang kurang kondusif. ”Saat ini hampir seluruh saham perusahaan BUMN terkoreksi tajam. Kami dalam posisi menunggu perkembangan walau dua hari terakhir harga saham membaik,” kata Direktur BTN Saut Pardede, Jumat (11/4) di Jakarta.
Penundaan IPO dapat dilakukan hingga semester II-2008 atau bahkan sampai tahun 2009. Namun, ujar Saut, penundaan itu tidak akan memengaruhi kinerja BTN.
”Kami telah melalui tahapan IPO di Komisi Privatisasi, tinggal proses persetujuan DPR, lalu menunggu saat tepat untuk IPO,” kata Dirut BTN Iqbal Latanro.
Dalam berbagai rapat di Komisi V DPR antara BTN dan Kementerian Negara Perumahan Rakyat maupun Kementerian Negara BUMN, Komisi V selalu menegaskan persetujuan terhadap rencana IPO BTN.
Pemberian kredit tetap jalan
Andaikata kondisi pasar tidak menjanjikan untuk IPO, Iqbal meyakini ekspansi kredit tetap dapat dilaksanakan. Hingga Maret 2008, dari target pemberian kredit perumahan sebesar Rp 10,04 triliun, kredit yang telah terealisasi Rp 2,3 triliun.
Sementara kredit untuk rumah sederhana sehat (RSH) sampai Maret tahun ini telah direalisasikan sebesar Rp 835,4 miliar atau setara dengan 20.817 unit RSH.
Terkait dengan kenaikan plafon harga RSH dari Rp 49 juta menjadi maksimal Rp 55 juta per unit, jelas Iqbal, BTN telah melakukan penurunan suku bunga kredit BTN sehingga subsidi selisih bunga yang ditanggung pemerintah tidak membengkak.
Subsidi selisih bunga dan bantuan uang muka untuk RSH yang dialokasikan pemerintah dalam APBN tahun ini sebesar Rp 800 miliar.
Dalam penyaluran kredit untuk RSH, BTN sering menalangi lebih dulu karena dana dari pemerintah tidak pernah mencukupi untuk pemenuhan kebutuhan kredit pemilikan RSH.
”Kami siap menalangi lagi kebutuhan subsidi pemerintah,” ujar Iqbal.
Saut Pardede menambahkan, BTN mengandalkan penerbitan obligasi senilai Rp 1 triliun untuk memperkuat struktur permodalan dan meningkatkan kapasitas pemberian kredit.
Dua opsi lain adalah penawaran saham perdana atau initial public offering dan sekuritisasi aset melalui PT Sarana Multigriya Finansial (Persero). ”Bila situasi pasar bagus, BTN akan menawarkan surat utang pada Mei atau Juni,” ujar Saut.


