RUSUTSU, RABU - Negara-negara utama penghasil gas rumah kaca berjanji bekerja sama mengatasi perubahan iklim, Rabu (9/7). Namun, penyataan tersebut tidak menyebutkan target pengurangan emisi karbon dioksida dan polutan lainnya, yang menyebabkan pemanasan global.
Kelompok 16 negara dan Uni Eropa menyampaikan dukungannya di dalam negosiasi yang dipimpin oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Negosiasi ini bertujuan menyelesaikan pakta pemanasan global baru, yang akan dikeluarkan Desember 2009. Tahap pertama dari pakta sekarang ini, Protokol Kyoto, berakhir tahun 2012.
Pemimpin-pemimpin dari negara berekonomi kuat, baik negara maju dan negara berkembang, berjanji memerangi perubahan iklim, sesuai dengan tanggung jawabnya masing-masing. Demikian pernyataan bersama negara-negara G-8.
"Kenyataan bahwa kelompok tersebut bersatu dan berjanji akan bekerja sama untuk mengurangi emisi akan memberikan kepercayaan diri dan komitmen yang lebih besar," ujar Ketua Dewan Kualitas Lingkungan George W Bush, Jim Connaughton.
Namun, para aktivis lingkungan mengganggap pernyataan tersebut sia-sia karena tidak ada target yang spesifik. "Keseluruhan prakarsa ini adalah kesia-siaan dan tidak membawa hal-hal konstruktif di level PBB," kata Antonio Hill dari Oxfam Internasional.
Washington telah mensponsori pembicaraan penanggulangan perubahan iklim. Negara-negara anggota turut berkontribusi 80 persen dari total gas rumah kaca dunia, termasuk AS, China, dan India. Sesi pertama kelompok ini berlangsung di AS, September lalu.
Pengumuman itu muncul setelah G8 mendukung pengurangan emisi gas rumah kaca hingga setengahnya pada tahun 2050. Namun, negara-negara berkembang, seperti China dan India, mengkritik bahwa pernyataan ini gagal menegaskan komitmen negara-negara kaya, dan pertentangan ini tercermin dari tidak adanya target jangka panjang.
Aktivis lingkungan juga melontarkan banyak kritik kepada negara-negara maju yang tidak melibatkan negara-negara kepulauan kecil, yang paling menderita akibat pemanasan global. "Pembicaraan ini tidak menghadirkan negara-negara yang rentan terhadap pemanasan global, orang-orang yang rentan terhadap pemanasan global," ujar Kim Carstensen, Direktur WWF Climate Initiative. (C9-08)


