Rabu, 16 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 16 Mei 2012 | 21:04 WIB
Dampak Pemadaman Listrik, Produksi Es Turun
Siwi Nurbiajanti | Minggu, 13 Juli 2008 | 18:14 WIB
|
Share:

TEGAL, MINGGU - Pemadaman listrik yang terjadi beberapa waktu terakhir, menyebabkan menurunnya produksi es balok di Tegal. Selain itu, pemadaman listrik juga mengakibatkan rusaknya sejumlah alat untuk membuat es.

Risyanto, karyawan bagian penjualan PT Salju Abadi di Jalan Teuku Umar Kota Tegal, Minggu (13/7) mengatakan, pemadaman listrik sangat berpengaruh terhadap produksi dan penjualan es balok di tempatnya.

Selama ini, perusahaan tersebut menyuplai es balok untuk nelayan dan sejumlah depot es untuk warung makan. Selain untuk wilayah Tegal, es juga dijual ke daerah lain, hingga Kuningan, Jawa Barat.

Menurut dia, dalam kondisi normal atau tanpa ada pemadaman, produksi es balok mencapai 30 hingga 40 ton per hari. Namun saat ada pemadaman, produksi es balok hanya sekitar 20 hingga 25 ton per hari. Satu ton es berisi sekitar 20 balok. Es dijual Rp 7.000 per balok .

Dengan adanya pemadaman, waktu produksi menjadi lebih lama. Selain itu, listrik juga dibutuhkan untuk memompa air dari dalam tanah, sehingga proses tersebut tidak dapat dilakukan saat listrik mati. Untuk mengolah air menjadi es balok, dibutuhkan waktu sek itar 12 jam. Dalam seminggu, pemadaman terjadi sekitar dua hingga tiga kali, dengan durasi sekitar dua jam, ujarnya.

Risyanto mengatakan, selama ini penjualan es didasarkan pada pesanan. Akibat menurunnya produksi, pasokan es ke nelayan maupun sejumlah depot es sempat terlambat. Pernah ada pemilik kapal minta 600 balok es, kami hanya bisa memenuhi sekitar 288 balok, ka rena persediaan tidak ada, ujarnya.

Selain terhambatnya produksi, pemadaman listrik juga mengakibatkan rusaknya sejumlah alat elektronik untuk membuat es. Selama terjadi pemadaman, kerugian akibat kerusakan alat elektronik mencapai sekitar Rp 300 juta. Selain itu, puluhan karyawan juga tida k berkerja secara optimal selama ada pemadaman.

Sebenarnya, perusahaan tersebut memiliki genset. Namun genset ganya digunakan untuk penerangan lampu. Untuk produksi es, kapasitas genset tidak memadai, ujarnya.

Meskipun produksinya berkurang, sejumlah nelayan dan depot es mengaku masih bisa mendapat pasokan secara lancar. Hanya saja, harga es balok eceran mengalami kenaikan.

Suprapto, pemilik depot es di Jalan Jalak Kota Tegal mengatakan, pasokan es masih diperolehnya secara lancar. Rata-rata dalam sehari ia menghabiskan sekitar tujuh balok es. Ia membeli es Rp 11.000 per balok dan menjualnya Rp 20.000 per balok. Suprapto te rpaksa mengambil keuntungan besar karena ia harus menanggung resiko mencairnya es.

Tambari, tokoh nelayan di Kelurahan Muarareja, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal mengatakan, kebutuhan es balok nelayan masih tercukupi. Meskipun demikian, harganya naik dari Rp 7.000 menjadi Rp 11.000 per balok. Selama ini, nelayan membeli es dari sejuml ah agen atau pemasok yang ada di sana. Untuk melaut selama jangka waktu 10 hari, dibutuhkan sekitar 1,5 ton es balok per kapal.

Sumber :
Kompas