Rabu, 16 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 16 Mei 2012 | 21:05 WIB
Obligasi Internasional PLN Terancam Ditunda
Erlangga Djumena | Jumat, 25 Juli 2008 | 15:55 WIB
|
Share:

JAKARTA,JUMAT - Menneg BUMN Sofyan Djalil mengisyaratkan PT PLN menunda penerbitan obligasi internasional (global bond) pada tahun 2008 karena terganjal situasi pasar yang tidak mendukung.

"Saya pikir kondisi sekarang tidak bagus, kalau PLN mau melakukan investasi harus memikirkan cara yang paling menguntungkan," kata Sofyan Djalil seperti dikutip Antara di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (25/7).

Ia menjelaskan, saat ini pasar obligasi kurang bagus karena tingginya suku bunga. PLN pada 2008 akan menerbitkan obligasi internasional senilai Rp 10 triliun, selain juga menerbitkan obligasi rupiah senilai Rp 3 triliun yang hasil perolehan dananya akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan internal perseroan.
    
Obligasi yang masih harus menunggu izin Menneg BUMN akan dimasukkan dalam  rencana kerja dan anggaran perusahaan tahun 2009. Dana Rp 3 triliun akan digunakan untuk mendanai proyek 10.000 megawatt yang masih dalam proses, selain juga menjajaki pinjaman valuta asing (valas) senilai 1,8-2 miliar dollar AS dari beberapa bank asing, antara lain Bank of China, BNP Paribas, dan China Exim Bank.

Menurut Sofyan Djalil, selain melalui instrumen obligasi PLN, juga harus mengkaji kemungkinan cara lain yang lebih menguntungkan. Ia berpendapat cara lain tersebut antara lain bisa dengan mendivestasi aset PLN melalui cara initial public offering (IPO). "Tidak tertutup kemungkinan pendanaan diperoleh dari aset PLN IPO. Itu akan jauh lebih bagus," katanya.    

Meski begitu, Sofyan menjelaskan, hingga kini pihaknya belum memperoleh proposal rencana perusahaan setrum tersebut untuk mencari alternatif pembiayaan selain obligasi internasional.
    
Ia hanya menjelaskan, yang penting semua opsi akan dipertimbangkan, termasuk kemungkinan menerbitkan obligasi dalam bentuk syariah (sukuk).