MEDAN, SENIN - Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Labuhan Angin di Sibolga mulai diujicobakan. Bahkan kapal pertama yang mengangkut batu bara untuk pembangkit listrik tersebut telah tiba dari Sumatera Barat. Rencananya, pada bulan Desember mendatang, unit satu pembangkit listrik dengan kapasitas 2x115 mega watts masuk ke sistem listrik Sumatera bagian Utara.
Menurut General Manager PLN Proyek Induk Pembangkit dan Jaringan Sumatera Utara, Aceh dan Riau (Pikitring SUAR), Indra Pribadi, saat ini unit satu Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Labuhan Angin tengah menjalani commissioning atau uji coba. "Selama masa uji coba akan dilihat bagaimana kemampuan mesin pembangkit memproduksi listrik hingga 115 MW. Batu bara dari Sumatera Barat juga telah datang. Memang sempat terlambat karena suplai batu baranya juga telat," ujar Indra, Senin (4/8).
Dia mengungkapkan, unit dua PLTU Labuhan Angin rencananya beroperasi pada bulan April mendatang. "Unit satu PLTU Labuhan Angin bisa masuk sistem listrik Sumatera bagian Utara pada bulan Desember mendatang, sementara untuk unit dua kemungkinan bisa masuk pada bulan April tahun depan," katanya.
PLTU Labuhan Angin saat ini sangat diharapkan menjadi salah satu pembangkit baru yang bisa mengatasi krisis listrik di Sumut. Kondisi kelistrikan di Sumut dan Nanggroe Aceh Darussalam saat ini masih mengalami defisit hingga 160 MW.
Menurut Deputi Manajer Komunikasi PLN Wilayah Sumut, Raidir Sigalingging, defisit tersebut sejak tiga hari terakhir bertambah 200 MW akibat adanya pergantian filter udara pada GT 11 PLTGU Sicanang Belawan. Kondisi ini mengakibatkan, pemadaman bergilir pada konsumen rumah tangga di Sumut dan NAD selama tiga hari terakhir. Pemadaman bahkan bisa terjadi selama empat jam setiap harinya.
"Hari Senin sore rencananya sudah bisa masuk kembali. Jadi kehilangan daya 200 MW akibat pergantian filter udara GT 11 ini sudah bisa teratasi mulai Senin malam," kata Raidir.
Raidir juga mengatakan, untuk defisit normal hingga 160 MW, PLN tidak akan memadamkan listrik bagi pelanggan rumah tangga. "Pemadaman hanya dilakukan untuk konsumen industri. Kecuali kalau ada tambahan defisit, baru konsumen rumah tangga mendapat giliran pemadaman," ujarnya.
Raidir mengungkapkan, sebenarnya PLN telah memiliki rencana mengatasi krisis di Sumut pada tahun 2008. Khusus untuk mengatasi krisis listrik di Sumut, PLN telah membentuk tim task force yang tugasnya membangun PLTG Paya Pasir dan Glugur (67 MW) dan PLTG Belawan (100 MW). "Tetapi baru sebagian yang bisa masuk ke sistem listrik Sumut. Seperti PLTG Belawan yang dikerjakan tim task force masih belum selesai," katanya.
Beberapa program yang dikerjakan PLN Pembangkitan Sumatera bagian Utara untuk mengatasi krisis listrik seperti perbaikan PLTGU ST 20 (125 MW) dan pembelian energi atau yang lebih dikenal dengan sewa genset berbahan bakar marine fuel oil (MFO) hingga 65 MW telah diselesaikan. Namun kata Raidir PLTD barge mounted atau apung yang dipinjam dari Sumbagsel dengan kapasitas 60 MW justru tak bisa dioperasikan.


