BANDA ACEH, MINGGU - PT PLN (Persero) bersedia menambah mesin pembangkit berkapasitas 8 Mega Watt (MW) untuk Banda Aceh, sebagai antisipasi jika terjadi gangguan pada sistem interkoneksi Sumut-Aceh.
Kebijakan ini sebagai langkah mendesak sambil menunggu rampungnya proyek-proyek pembangkit berskala besar yang ditargetkan tuntas pada 2010. Penjelasan seputar program kelistrikan itu disampaikan Dirut PT PLN, Fahmi Mochtar ketika berkunjung ke Redaksi Serambi Indonesia, di Meunasah Manyang agar Air, Ingin Jaya, Aceh Besar.
Fahmi didampingi sejumlah direksi PLN serta Walikota Banda Aceh, Mawardy Nurdin. Para petinggi PLN tersebut diterima Pemimpin Perusahaan PT Aceh Media Grafika, Mohammad Din, Sekretaris Redaksi Bukhari M Ali, Manager Produksi, Ismail M Syah serta sejumlah staf redaksi.
Informasi akan adanya relokasi pembangkit berkapasitas 8 MW disampaikan Walikota Banda Aceh mengutip hasil pembicaraannya dengan Dirut PT PLN, Fahmi Mochtar.
Menurut Walikota, untuk mengantisipasi problem kelistrikan di Banda Aceh khususnya, diharapkan adanya upaya-upaya dalam waktu singkat yang dilakukan PLN. “Harapan kita ditanggapi pihak PLN, di mana pihak PLN bersedianya untuk memindahkan (merelokasi) pembangkit berkapasitas 8 MW dari Medan ke Banda Aceh,” kata Mawardy.
Dijelaskan Mawardy, penambahan 8 MW yang dimaksudkan pihak PLN adalah dalam bentuk relokasi mesin pembangkit sehingga ketika terjadi gangguan pada sistem interkoneksi Sumut-Aceh, listrik di daerah ini tetap aman.
“Dengan penambahan itu plus 10 MW dari PLTD Apung dan 23 MW dari PLTD Lueng Bata, maka persoalan listrik di Banda Aceh dapat diatasi sambil menunggu selesainya pembangunan PLTU Nagan Raya,” ujar Mawardy.
Mawardy juga mengatakan telah membicarakan hal itu dengan GM PLN Wilayah Sumbagut dan mereka menyatakan bersedia memindahkan pembangkit berkapasitas 8 MW dari Medan ke Banda Aceh. “Kita harapkan kalau bisa dalam tahun ini juga direalisasikan,” kata Walikota Banda Aceh.
Soal PLTD Apung
Mengenai PLTD Apung - yang terdampar akibat tsunami di kawasan Punge Blang Cut Banda Aceh - menurut Dirut PT PLN, persoalannya tidak sesederhana itu. Alasannya, PLTD Apung itu akan dijadikan sebagai museum tsunami dan itu menurutnya penting untuk mengenang sejarah tsunami di Aceh dan ini didukung oleh PLN.
Kecuali itu, kata Fahmi, mesin PLTD itu sendiri, belum tentu ekonomis jika dioperasikan karena sudah tua. “Kita juga punya pemikiran untuk memanfaatkan itu. Namun sebenarnya bila jaringan intekoneksi bagus, pengoperasian PLTD Apung jelas tidak ekonomis,” kata Fahmi.
Dirut PT PLN ini juga mempersilakan pemerintah daerah untuk membuka peluang seluas-luasnya kepada investor. Bila saat ini investor masuk ke Aceh dan pembangunannya selesai pada tahun 2010 nanti, maka tak ada yang perlu dikhawatirkan mengenai ketersediaan listrik.
“Toh membangun itu kan tidak hari ini dibangun lantas hari ini juga selesai. Membangun itu butuh waktu. Kalau pembangunan selesai 2010, maka pembangunan PLTU Nagan Raya juga sudah selesai, demikian juga di kawasan Sumatera lain maka dengan sendirinya sistem kelistrikan akan bagus, jadi tangkap saja (peluang) itu,” jelas Fahmi.
PLTD Lueng Bata
Fahmi juga membantah sinyalemen tentang adanya mesin pembangkit, seperti PLTD Lueng Bata yang berkondisi baik namun penggunaannya tidak dioptimalkan. “PLTD Lueng Bata itu sudah berumur 23 tahun. Mesinnya saja yang besar tetapi kapasitasnya kecil. Jadi kalau dikatakan tidak dioptimalkan, ya tidak benar juga,” tandas Fahmi.
Pernyataan Fahmi dibenarkan General Manager PLN Pembangkit Wilayah Sumbagut, Misbachul Munir. Menurutnya, sinyalemen tersebut sama sekali tidak benar. Memang problem utama yang dihadapi adalah umur mesin yang relatif tua. Meski demikian pihaknya telah mengoperasikan secara maksimal dan tetap berupaya untuk menaikkan daya.
Menurut pihak PLN, Aceh mendapatkan suplai arus dari pembangkit Medan sebesar 150 MW. Sementara kemampuan daya di PLTD Lueng Bata plus kemampuan mesin yang disewa sekitar 20 MW hingga 23 MW. Kalau saja PLTD Lueng Bata ini mampu menghasilkan daya sebesar 24 MW, maka Banda Aceh dipastikan tidak lagi mengalami pemadaman. “Tetapi mesin kita memang kadang-kadang mengalami gangguan,” kata Misbachul.
Upaya lain yang dilakukan PT PLN adalah melakukan perbaikan pada transmisi. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memasang kapasitor bank sehingga tegangan ke Aceh bisa meningkat.
Lokasi Aceh yang berada di ujung sumatera menyebabkan tegangan menjadi rendah. Untuk itu pihaknya akan menambah lagi pemasangan kapasitor bank sehingga daya listrik dari pembangkit Sumut akan lebih maksimal ke Aceh. “Dengan demikian, PLTD Lueng Bata nantinya hanya berfungsi sebagai back-up,” katanya.
Tunggakan tertinggi
Dirut PT PLN, Fahmi Mochtar dalam kesempatan itu juga mengungkapkan berbagai persoalan kelistrikan, mulai dari pemborosan penggunaan hingga tunggakan. Bahkan, dalam hal tunggakan, Aceh tercatat sebagai penunggak listrik terbesar di Indonesia.
“Menurut catatan kami, Aceh termasuk daerah dengan tunggakan listrik tertinggi di Indonesia. Artinya apa, pembayaran tepat pada waktunya perlu sosialisasi lagi,” kata dia.
Data yang diperoleh dari GM PLN Wilayah Aceh, Wahyu Sulaeman, hingga akhir juli tunggakan tercatat Rp 103 miliar. Sementara rekening tercetak bulanan hingga akhir Agustus sebesar Rp 64,5 miliar. Artinya, tunggakan yang terjadi mencapai dua kali lipat.
“Tunggakan yang terjadi itu secara umum. Tunggakan pemda saat ini sudah sangat menurun. Kalau saya nggak salah, untuk Banda Aceh dan provinsi kira-kira sekitar Rp 7 miliar lagi,” ungkap Wahyu.
Menanggapi persoalan itu, Dirut PT PLN berharap agar sosialisi membayar rekening listrik tepat waktu, termasuk hemat listrik perlu ditingkatkan lagi. Untuk Banda Aceh, menurut Fahmi, kedua program itu belum berjalan maksimal dan meminta PLN Wilayah agar lebih agresif dalam mengkampanyekan kepada masyarakat.
Program kampanye hemat energi dan pembayaran rekening tepat waktu, menurut Fahmi sebagai program jangka pendek PLN. Sementara jangka menengah adalah percepatan pembangunan proyek pembangkit 10.000 MW yang salah satunya berada di Aceh, yakni PLTU Nagan Raya.
“Pembangunan PLTU Nagan Raya kita perkirakan selesai 2010 akhir atau 2011 awal. Tetapi sebenarnya ini untuk memperkuat sistem. Karena seluruh sumatera akan interkoneksi mulai dari Banda Aceh sampai ke Lampung. Jadi di manapun pembangkit itu dibangun, sebenarnya itu untuk seluruh sumatera,” demikian Fahmi. (yos/Serambi Indonesia)


