Rabu, 16 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 16 Mei 2012 | 21:10 WIB
Garuda: GMF Hanya Siap Kerjasama Bukan Akuisisi
Erlangga Djumena | Minggu, 14 September 2008 | 18:57 WIB
|
Share:

JAKARTA, MINGGU - PT Garuda Indonesia (Garuda), induk perusahaan dari PT GMF AeroAsia menegaskan, GMF sampai beberapa tahun ke depan, hanya siap dikerjasamakan dengan perusahaan sejenis bukan diakuisisi sebagian sahamnya oleh pihak lain.

"Konsep jangka pendek dan menengah kami tentang GMF AeroAsia adalah dikerjasamakan dengan pihak lain, bukan akuisisi," kata Dirut Garuda, Emirsyah Satar menjawab pers akhir pekan lalu usai Buka Bersama Jajaran Departemen Perhubungan, di Jakarta.

Oleh karena itu, tegasnya, sebagaimana disampaikan pemerintah melalui Kementerian BUMN telah menolak penawaran dari rencana perusahaan penerbangan Belanda, KLM untuk mengakuisisi sebagaian saham PT GMF AeroAsia.

Menneg BUMN, Sofyan Djalil sebelumnya menegaskan, pihaknya telah menerima proposal KLM mengenai rencana pembelian saham GMF, tetapi hal itu ditolak pemerintah. Emirsyah melanjutkan, konsep kerjasama tersebut akan terus diupayakan hingga posisi nilai PT GMF sudah sesuai harapan.
     
Namun, Emirsyah tidak merinci, posisi nilai GMF yang dimaksud, apakah ukurannnya kinerja atau penguasaan pangsa pasar.

Sementara itu, Menneg BUMN, Sofyan Djalil sebelumnya sudah menegaskan bahwa GMF akan difokuskan terlebih dahulu memperbaiki kinerja perusahaan, baru kemudian menjual saham perdana kepada publik (IPO). "Kalau mereka (KLM) masuk setelah IPO bisa saja. Tetapi bukan sekarang," katanya.

PT GMF AeroAsia sendiri tahun ini mentargetkan mampu meraup pendapatan 160 juta dolar AS tahun ini, naik 20 persen dibanding tahun sebelumnya. "Perkiraan dan target seperti itu," kata Direktur Utama PT GMF AeroAsia, R. Budihadianto sebelumnya.
     
Hingga semester I 2008, dia menjelaskan, GMF telah meraih pendapatan senilai 70-80 juta dollar AS. Sementara, pasar perawatan pesawat dunia sepanjang 2008 diperkirakan mencapai 48 miliar dollar AS.
     
Menurut dia, prospek perusahaan Perawatan, Perbaikan, dan Overhaul (MRO) pesawat di Asia saat ini dan ke depan sangat cerah, menyusul melambungnya harga minyak internasional.  "Maskapai dunia di Eropa dan AS saat ini cenderung mengalihkan MRO pesawatnya ke Asia karena lebih kompetitif," katanya.
     
Nilai kompetitif tersebut terutama pada tiga hal, yakni ongkos karyawan yang rendah, kualitas yang tak kalah dengan standar internasional serta waktu perawatan yang bersaing. "Nilai penawaran GMF sendiri sekitar 10-20 persen lebih rendah jika dibanding MRO sejenis di Asia seperti di Singapura sekali pun," katanya memberikan contoh.
    
Ia memberikan contoh, untuk ongkos karyawan per jam GMF saat ini rata-rata sekitar 40-50 dollar AS.

Sumber :
Ant