Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 12 Februari 2012 | 01:34 WIB
Aset Bank Plat Merah Kembali Menyusut
| Selasa, 16 September 2008 | 12:08 WIB
|
Share:

JAKARTA, SELASA - Bank Indonesia (BI) mencatat penurunan nilai aset bank pelat merah selama tujuh bulan pertama 2008. Dari daftar sepuluh bank terbesar di Indonesia, tiga diantaranya merupakan bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Ketiga bank BUMN itu adalah PT BRI Tbk, PT Bank Mandiri Tbk, dan PT BNI Tbk.

Ambil contoh BRI. Per akhir Desember lalu, nilai aset BRI sebesar Rp 204,09 triliun. Pada akhir Juli, nilai aset BRI turun menjadi Rp 200,59 triliun. Artinya, nilai aset BRI turun Rp 3,5 triliun selama tujuh bulan. Porsi nilai aset BRI terhadap aset industri pun merosot dari 10,27 persen menjadi 9,94 persen.

BNI juga mengalami nasib serupa. Aset BNI yang per akhir 2007 masih Rp 184,46 triliun turun Rp 10,13 triliun menjadi Rp 174,33 triliun pada akhir Juli. Pangsa aset BNI terhadap total aset perbankan nasional juga turun dari 9,29 persen menjadi 8,64 persen.

Penurunan nilai aset Bank Mandiri lebih gede lagi. Aset bank terbesar di Indonesia ini, susut Rp 20,26 triliun dalam tujuh bulan. Akibatnya, aset Mandiri hingga Juli 2008 tinggal Rp 286,2 triliun atau turun 7,11 persen dibandingkan Desember 2008 lalu yang masih tercatat senilai Rp 306.56 triliun.

Porsi aset Mandiri terhadap total aset industri pun ikut susut dari 15,43 persen menjadi 14,18 persen. Untung, kondisi ini tak menggeser posisi Mandiri dari peringkat bank terbesar di Indonesia.

Siklus proyek pemerintah

Direktur Keuangan PT BRI Tbk Abdul Salam menyatakan, penurunan aset di BRI terjadi karena Pemerintah dan BUMN melakukan pencairan simpanan. "Nasabah yang melakukan pencairan deposito seperti PLN dan Pertamina," jelas Abdul, pada Senin (15/9).

Abdul mengingatkan, Pemerintah dan BUMN memiliki siklus penempatan dana. Biasanya, dana mereka menumpuk di bank pada akhir dan awal tahun. Mulai triwulan pertama dan kedua, Pemerintah dan BUMN mencairkan dana mereka untuk membiayal proyek.

Pada triwulan ketiga, dana tersebut akan kembali lagi ke bank. Dana kembali masuk melalui perusahaan kontraktor yang ditunjuk sebagai pelaksana pembangunan proyek.

Jadi dana itu masuk atas nama kontraktor. Mereka menempatkan dana di bank dan baru menariknya secara bertahap untuk membiayai proyek yang berjalan. "Siklus tahunannya seperti itu," tutur Abdul.

Bank Mandiri punya penjelasan lain tentang penurunan nilai aset. Chief Financial Officer Bank Mandiri Pahala N. Mansyuri menjelaskan penurunan aset terjadi sebagai buntut dari rencana memperbesar dana murah. "Risikonya memang pertumbuhan aset meWadi sedikit menurun," tutur Pahala.

Namun, hasil memperbesar persentase dana murah sudah terlihat. Dalam dua tahun terakhir, nilai tabungan di Bank Mandiri meningkat hingga Rp 60 triliun. Dus, biaya dana alias cost offend juga turun, sehingga margin bunga naik. Di saat laba bertambah, secara perlahan manajemen Bank Mandiri akan menggenjot lagi nilai aset.

Sekretaris Perusahaan PT BNI Tbk Intern Abdams Katoppo mengaitkan penurunan nilai Aset di BNI dengan penurunan dana masyarakat yang tersimpan dalam giro dan deposito. "Penurunan ini terutama akibat pencairan dana oleh Pemerintah," tutur Intan. Tapi Intan bilang manajemen BNI tetap optimistis aset BNI bisa tumbuh sesuai target yaitu 20 persen pada tahun ini. (Sanny C.S, Arthur Gideon, Magdalena S, Khomarul H)

Sumber :
KONTAN