JAKARTA,MINGGU - Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia Bambang Soesatyo meminta Bank Indonesia (BI) menanggalkan dulu strategi BI Rate yang tinggi sebagai alat pancing hot money (dana asing berjangka pendek).
"Dunia usaha dan masyarakat sekarang merasakan benar bunga bank yang tinggi. Kalau BI Rate turun maka suku bunga bank otomatis turun. Untuk bangkitkan sektor riil dan membantu masyarakat sebaiknya BI Rate turun," kata Bambang, Minggu (2/11).
Dikatakan sebelum konsolidasi sektor keuangan dan sistem perbankan di AS dan Eropa rampung, strategi ini tidak efektif. Lebih strategis dan efektif jika BI menurunkan BI rate, mengikuti tren global penurunan suku bunga acuan.
Lanjut Bambang penarikan investasi asing pada aset berdenominasi rupiah mengindikasikan BI rate yang tinggi (9,5 persen) gagal menahan dana asing bertahan di dalam negeri. Bahkan belum menarik minat pengelola dan investor asing menempatkan dananya di pasar Indonesia. Buktinya, pada pekan kedua Oktober 2008, investor asing melepas SBI dan SUN sebesar 2,1 miliar dolar AS.
Kecenderungan ini, lanjut Bambang, menjelaskan bahwa dalam suasana krisis sekarang, investor asing menarik seluruh asetnya dari emerging market untuk menyehatkan dan memperkuat likuiditas perusahaan induk di negara asal. Maka, strategi BI rate yang tinggi jadi tidak relevan dengan kecenderungan itu.
"Sebaliknya, BI perlu mengikuti tren global penurunan suku bunga acuan. Suku bunga yang moderat atau rendah amat diperlukan untuk menggerakkan dan mendinamisasi perekonomian. Suku bunga yang rendah akan meringankan beban dunia usaha serta memberi tambahan daya konsumsi masyarakat," katanya.
Berdasarkan pertimbangan itu, Fed Fund rate diturunkan menjadi 1 persen dari sebelumnya 1,5 persen. Langkah yang sama juga akan ditempuh Bank of England, Bank sentral Uni Eropa, Bank of Japan dan bank sentral China.
Bambang mengatakan BI Rate dipatok 9,5 persen sebagai strategi pengetatan moneter, meredam inflasi dan menarik dana asing ke sistem perbankan nasional. Inflasi dalam beberapa bulan ke depan bisa ditekan jika imported inflation bisa diminimalkan. "Kita setuju pengetatan moneter, tapi kran kredit dengan suku bunga yang moderat tetap dibuka bagi usaha-usaha yang kompetitif," jelasnya.


