Senin, 21 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 21 Mei 2012 | 18:04 WIB
Tahun 2009, Maskapai Diuntungkan Pemilu
Haryo Damardono | Jumat, 21 November 2008 | 08:35 WIB
|
Share:

BADUNG, JUMAT — Meskipun krisis global menerpa Indonesia, maskapai nasional diuntungkan penyelenggaraan Pemilihan Umum 2009. ”Orang banyak bepergian untuk mengonsolidasikan massa dan berkampanye. Jadi, permintaan untuk pasar domestik tetap tinggi,” ujar Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar, Kamis (20/11) di Jimbaran, Kabupaten Badung, Bali.

Emirsyah yang juga Ketua Indonesia National Air Carrier Association mengatakan, sangat penting menjaga pendapatan perusahaan ketika nilai tukar melemah seperti sekarang.

Terkait ancaman terhadap penurunan penumpang di rute mancanegara, Emirsyah mengatakan, maskapai Garuda tetap berharap dari rute mancanegara jarak pendek. ”Saya memprediksi mungkin penduduk dari Perth, Australia, akan memilih berlibur ke Bali daripada ke Gold Coast. Karena jarak lebih dekat, kemudian karena rupiah melemah, turis dari sana akan memilih berlibur ke Bali. Peluang ini akan kami manfaatkan,” ujar dia.

Di Bali Emirsyah Satar juga berbicara dalam pembukaan Asosiasi Penerbangan Asia Pasifik (AAPA). Menurut dia, hingga bulan ini belum dilaporkan adanya perlambatan bisnis di sektor penerbangan.

Kondisi ini diharapkan membantu maskapai menghadapi peningkatan biaya operasional akibat melemahnya rupiah terhadap dollar AS. Biaya operasi sebuah maskapai penerbangan di Indonesia diperkirakan mencapai 55 persen, antara lain biaya yang harus dikeluarkan dalam dollar AS.

Pengeluaran dalam dollar AS di antaranya untuk pembelian suku cadang, perawatan, dan sewa pesawat. Pinjaman untuk pembelian pesawat pun dalam dollar AS. ”Maskapai-maskapai nasional belum melaporkan pengurangan penumpang. Meski penerbangan global melambat, stabilnya pangsa pasar domestik menolong maskapai Indonesia. Terlebih Indonesia yang merupakan negara kepulauan membutuhkan angkutan udara sebagai moda transportasi penghubung,” kata Emirsyah.

Emirsyah menegaskan, akibat krisis global, belum telontar keinginan untuk mengonsolidasikan manajemen dari maskapai-maskapai nasional. Dalam tiga tahun terakhir, pertumbuhan angkutan udara rata-rata mencapai 15 persen per tahun sehingga merebut pangsa pasar dari moda transportasi lainnya.

Tahun lalu realisasi pendapatan PT KA sebesar Rp 3,73 triliun atau hanya 81 persen dari target akibat persaingan dengan transportasi udara.

Direktur Jenderal AAPA Andrew Herdman mengatakan, seiring krisis global, sejumlah maskapai akan memasuki masa turbulensi. Mengutip data dari Asosiasi Internasional Transportasi Udara, Herdman mengatakan, tahun 2008-2009 industri penerbangan akan mengalami kerugian sekitar 10 miliar dollar AS.

Sumber :
Kompas Cetak