JAKARTA, SELASA — Pelaku pasar modal dalam negeri menyambut positif penurunan harga BBM untuk kedua kalinya dalam bulan ini. Euforia tersebut langsung mendongkrak harga saham ke level yang relatif tinggi.
Namun, euforia itu diperkirakan hanya sementara. Selanjutnya, pelaku pasar akan melihat seberapa besar pengaruh penurunan harga BBM terhadap tingkat inflasi dan suku bunga.
Indeks Harga Saham Gabungan pada perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, Senin (15/12), meningkat 96,31 poin atau 7,63 persen menjadi 1.359,27, padahal pada Jumat (12/12) anjlok 4,08 persen. Kenaikan ini tertinggi dibandingkan dengan bursa-bursa regional yang kemarin juga ditutup menguat.
Indeks LQ-45 naik 25,65 poin atau 10,3 persen menjadi 274,75 dan Indeks Kompas100 melonjak 27,88 poin atau 9,13 persen.
Sekalipun indeks meningkat pesat, perdagangan saham pada Senin relatif sepi. Volume transaksi hanya 2,36 miliar saham dengan nilai Rp 2,3 triliun. Dari 192 saham yang diperdagangkan, 125 saham naik, 26 saham turun, dan 41 saham tetap.
Sebanyak tiga saham naik cukup spektakuler, mencapai 20 persen. Ketiga saham tersebut adalah saham Aneka Tambang naik Rp 200 menjadi Rp 1.200 per saham, saham Bank BNI naik Rp 100 menjadi Rp 600, dan saham Sumalindo Lestari Jaya naik Rp 22 menjadi Rp 132 per saham.
Adapun saham yang turun antara lain saham Goodyear Indonesia turun Rp 800 (9,94 persen) menjadi Rp 7.250, saham Citra Kebun Raya Agri turun Rp 8 (9,88 persen) menjadi Rp 73, dan saham Adaro Energy turun Rp 10 (2 persen) menjadi Rp 490.
Sesaat
Penguatan indeks saham juga dialami semua bursa regional. Setelah BEI, kenaikan indeks tertinggi dialami oleh bursa Jepang, yaitu sebesar 5,21 persen, disusul bursa Korea Selatan sebesar 4,93 persen, dan bursa Taiwan sebesar 2,96 persen.
Kepala Riset Recapital Securities Poltak Hotradero mengatakan, penguatan indeks saham bursa dalam negeri, Senin, hanya euforia sesaat para investor terhadap turunnya harga bahan bakar minyak jenis premium dan solar.
Harga premium turun dari Rp 5.500 menjadi Rp 5.000 per liter. Harga solar dari Rp 5.500 menjadi Rp 4.800 per liter. Harga baru itu berlaku sejak kemarin.
Ke depan, investor akan melihat bagaimana pengaruh penurunan harga BBM itu terhadap indikator perekonomian Indonesia lainnya, khususnya inflasi dan suku bunga perbankan.
”Sejauh ini turunnya harga BBM baru berpengaruh ke sektor transportasi. Investor akan mencermati pengaruhnya ke sektor lain, termasuk ke kinerja emiten,” kata Poltak.

