JAMBI, KAMIS — PLN menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah dalam kebijakan Tarif Dasar Listrik (TDL) secara keseluruhan termasuk soal turun tidaknya TDL pelanggan rumah tangga sehubungan penurunan harga bahan bakar minyak (BBM). Sampai saat ini PLN belum bisa memastikan apakah TDL khusus untuk rumah tangga akan diturunkan atau tidak seiring turunnya harga minyak.
"TDL kelompok industri dipastikan turun hingga 8 persen," kata Direktur Utama (Dirut) PLN, Fahmi Mochtar seusai meresmikan PLTG Silincah di Jambi, Kamis (15/1).
Ia mengatakan, sampai saat ini PLN masih menganalisis dampak dari diturunkannya TDL untuk rumah tangga mengingat pelanggan terbesar PLN dari rumah tangga mencapai 95 persen. Hal tersebut akan berdampak bertambahnya biaya yang lebih besar dalam operasional PLN. Beberapa permasalahan yang timbul dari turunnya TDL rumah tangga yakni bila TDL rumah tangga diturunkan maka pemerintah harus lebih besar menyubsidi PT PLN setiap tahunnya.
Pemerintah harus memilih mau memperbesar subsidi terhadap PLN dengan menurunkan TDL rumah tangga, atau tidak menurunkan TDL dengan jumlah subsidi yang diberikan nilainya tetap kepada PLN. Saat ini, PLN juga sedang mengkaji bila TDL turun harus dikaitkan dengan dampaknya dengan pertumbuhan ekonomi secara nasional.
"Turunnya harga BBM saat ini memang diakui pihak PLN juga menurunkan biaya pokok penyediaan listrik dari Rp 1.317 per kWh menjadi Rp 1.023 per kWh dengan harga jualnya rata-rata mencapai Rp 630 per kWh," tegas Fahmi Mochtar.
