Senin, 21 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 21 Mei 2012 | 19:56 WIB
NPL Kartu Kredit Bank Asing Paling Tinggi
Arthur Gideon | Jumat, 16 Januari 2009 | 08:15 WIB
|
Share:

JAKARTA, JUMAT - Kredit bermasalah alias non-performing loan (NPL) kartu kredit masih tinggi. Namun yang melegakan, kredit-kredit busuk itu merupakan warisan lama. Penerbit kartu kredit menanggung NPL tinggi karena mereka tidak menghapusbukukan tagihan lama yang macet.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Muliaman D. Hadad membeberkan, sepanjang tahun kemarin, kredit konsumsi yang termasuk kartu kredit mengalami tren penurunan NPL. "Namun untuk NPL gross kartu kredit masih tinggi, yaitu 10,92 persen," ujarnya kemarin, (14/1).

BI mencatat, penerbit kartu kredit yang memiliki rasio NPL tinggi adalah bank-bank asing yang membuka kantor cabang di Indonesia. Kelompok bank asing membukukan NPL kartu kredit sebesar 19,2 persen hingga akhir November 2008.

Bank campuran tercatat sebagai kelompok bank yang memiliki NPL tertinggi kedua di kartu kredit. Rasio NPL kartu kredit bank campuran per akhir November tahun lalu mencapai 12 persen.

Di tempat ketiga adalah bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memiliki NPL kartu kredit sebesar 11 persen. Berikutnya, adalah kelompok bank swasta dengan angka NPL kartu kredit sebesar 8 persen. Terakhir adalah kelompok Bank Pembangunan Daerah (BPD) dengan NPL kartu kredit sebesar 6 persen.

BI juga mencatat, angka NPL kartu kredit di perbankan mulai naik sejak bulan Agustus 2008. Meski BI mencatat NPL kartu kredit di bank tinggi, namun bank-bank yang dihubungi KONTAN mengaku tak bermasalah dengan NPL kartu kreditnya.

Sekretaris perusahaan PT Bank Mandiri Tbk. Sukoriyanto Saputro mengatakan, NPL kartu kredit di banknya rendah. "NPL kartu kredit kami per akhir Desember 2008 berkisar 2 persen," tuturnya.

Meskipun NPL cukup rendah, Sukoriyanto memastikan Bank Mandiri berusaha menjaga NPL. Salah satu caranya, menyeleksi ketat calon debitur. "Kami hanya menerima nasabah yang mempunyai kualitas penghasilan yang baik," ujar Sukoriyanto. Cara lain, mengintensifkan penagihan ke nasabah yang sudah masuk kategori kredit dalam perhatian khusus.

Bank UOB Buana menyatakan NPL kartu kreditnya sebesar 3,5 persen. Direktur Bisnis Bank UOB Buana Safrullah Hadi Saleh menyatakan, rasio NPL itu kecil karena sebagian besar nasabah mereka merupakan kalangan menengah ke atas. "Mereka selalu melunasi tagihan kredit tepat waktu," ujar Safrullah.

Sedang Bank CIMB Niaga mengaku rasio NLP kartu kredit hanya 3,1 persen. Bambang Karsono, Vice Presiden Card Business Development Group Head PT Bank CIMB Niaga Tbk menegaskan, angka itu masih tergolong dalam batas yang aman.

Tahun ini, CIMB Niaga menargetkan pertumbuhan jumlah kartu kredit yang beredar menjadi 800.000 kartu. Ini setara dengan pertumbuhan 33,3 persen dibandingkan jumlah kartu kredit di 2008. (Nadia Citra Surya/Kontan) 

Sumber :
KONTAN