Laporan wartawan Kompas Suhartono
JAKARTA, RABU — Rapat koordinasi yang dipimpin oleh Wapres Jusuf Kalla, Rabu sore, memerintahkan PT PLN untuk segera memulai pembangunan proyek listrik 10.000 MW tahap II. Proses tender direncanakan akan dimulai pada kuartal kedua tahun ini khusus untuk kemitraan swasta (IPP/Indonesia Public Produce). Sementara proses tender yang dilakukan PLN, diharapkan dimulai kuartal ketiga tahun ini.
Instruksi Wapres ini disampaikan Menteri Energi Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro dalam keterangan pers seusai rapat di Istana Wapres Jakarta, Rabu (21/1). Rapat dihadiri antara lain oleh Menneg BUMN dan Dirut PLN Fahmi Mochtar.
"Sejalan dengan proyek listrik 10.000 MW tahap pertama, diputuskan juga dalam rapat jadwal yang harus segera dimulai untuk proyek listrik tahap kedua. Untuk PLN, jadwalnya dimulai kuartal tiga dan IPP kuartal kedua tahun ini," ujar Purnomo.
Menurutnya, investasi untuk membangun proyek listrik tahap kedua ini sebesar 17,3 miliar dollar AS, yang terdiri dari investasi PLN sebesar 3,8 miliar dollar AS dan IPP 13,5 miliar dollar AS. PLN direncanakan akan membangun 3.600 MW, sedangkan swasta atau IPP membangun 6.400 MW.
Untuk proyek 10.000 MW tersebut, akan dibangun pembangkit listrik dengan bahan bakar batu bara sebanyak 26 persen. Adapun untuk pembangkit listrik hidro dan panas bumi 60 persen, sisanya 14 persen dari gas.
Mengenai realisasi proyek listrik 10.000 MW tahap pertama yang keseluruhannya berbahan bakar batu bara, menurut Fahmi, sudah terwujud sekitar 60 persen. "Pada tahun ini pembangkit yang diperkirakan selesai sebesar 2.000 MW, terdiri dari PLTA Banten dan Rembang," katanya.
Menurut Fahmi, untuk mendanai proyek tahap kedua ini, PLN akan mencari pinjaman lunak, menerbitkan obligasi berdenominasi mata uang asing, dan obligasi.
Disebutkan Fahmi, jumlah proyek untuk tahap kedua sebanyak 99 proyek.
