Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 20:55 WIB
Kapitalisme, Alasan Utama Perang
Imam Prihadiyoko | Jumat, 23 Januari 2009 | 21:53 WIB
|
Share:

EPA/ADRIAN BRADSHAW
Sejumlah rudal dan pesawat tempur dipamerkan di ruang utama Museum Militer di Beijing, China, Kamis (20/3). China sedang memamerkan senjata kuno dan modern yang berharga lebih murah, tetapi lebih canggih dan siap dijual ke pasar dunia.

Laporan wartawan Kompas Imam Priahdiyoko

JAKARTA, JUMAT — Perang di era modern sesungguhnya lebih disebabkan oleh kepentingan arus kapitalisme. Sulit mencari pembenaran lain, kecuali perang itu dilakukan untuk akumulasi modal dan mencari pasar baru bagi produksi persenjataannya.

"Itu sebabnya, Amerika tidak bisa menghentikan produksi senjatanya, karena akan menyebabkan pengangguran dalam jumlah besar. Bukan hanya kerugian finansial, tetapi posisi politik sebagai negara yang menjadikan teror sebagai bisnis yang menguntungkan akan turun," ujar Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera Anis Matta di Jakarta, Jumat (23/1) malam.

Anis menceritakan tentang hilangnya alasan negara modern untuk memproduksi persenjataan pascaperang dunia kedua dan runtuhnya komunisme dunia. Pasalnya, dunia semakin akrab dengan perdamaian yang diusahakan melalui berbagai bentuk dialog.

"Alasan untuk menggunakan persenjataan sebetulnya semakin berkurang. Namun, karena dorongan kapitalisme itulah, maka Amerika terus mencari alasan untuk memunculkan konflik. Di antaranya dengan memunculkan ketakutan-ketakutan baru," ujarnya.

Ketakutan baru itu seperti perang melawan teroris yang pada kenyataannya hanya menjadi pembenaran bagi Amerika dan sekutunya untuk menggunakan alat persenjataan yang dimilikinya. Selain itu, ketakutan yang muncul itu diperburuk lagi dengan ketegangan yang paling mudah disulut, yaitu sentimen agama.

"Pada akhirnya, produksi persenjataan Amerika itulah yang diuntungkan berbagai perang dan konflik di belahan dunia," ujarnya.