JAKARTA, SELASA — Depresiasi rupiah membuat bunga utang Indonesia naik Rp 8,1 triliun (0,2 persen PDB) dari angka awal Rp 109,3 triliun menjadi Rp 117,4 triliun. Walaupun begitu, pemerintah mengklaim kenaikan bunga utang dan penambahan utang luar negeri tidak akan menaikkan rasio utang terhadap PDB, di mana rasio utang pada 2009 sebesar 33 persen sementara pada 2008 sebesar 37 persen.
Dokumen tertulis Menteri Keuangan seperti disampaikan pada Komisi XI DPR RI, Selasa (27/1), berjudul Mengatasi Krisis Global Melalui Stimulus Fiskal APBN 2009 menyebutkan bahwa dampak krisis ekonomi global akan memengaruhi struktur APBN 2009, baik dari pendapatan negara, maupun belanja negara, termasuk diperlukannya penambahan stimulus fiskal.
Penerimaan di sektor pajak akan turun Rp 58,95 triliun seiring dengan penurunan kinerja ekonomi, koreksi kurs dan penurunan harga minyak. Adapun Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) turun Rp 73,07 triliun dengan penurunan harga minyak. Dengan penurunan itu maka penerimaan negara secara total akan menurun Rp 132 triliun.
Walaupun pemerintah telah menurunkan belanja negara dengan penurunan subsidi Rp 43,54 triliun dan penurunan transfer ke daerah sebesar Rp 16,9 triliun, namun pemerintah tetap akan menambah besaran utang, baik dari dalam negeri, maupun luar negeri dengan kenaikan defisit dari Rp 51 triliun menjadi Rp 132 triliun.
Pembiayaan tambahan sebesar Rp 80,8 triliun akan didapatkan pemerintah dari surplus (Silpa) APBN 2008 sebesar Rp 51 triliun dan tambahan utang dari pinjaman stanby loan (pinjaman siaga) sebesar Rp 38 triliun. "Target penerbitan SUN tetap," kata Dirjen Pengelolaan Utang Departemen Keuangan Rahmat Waluyanto di Jakarta, Selasa (27/1). (Kontan)
