KOMPAS
Rabu, 10 Februari 2010 Selamat Datang  |     |  
RI Utang Lagi ke Pasar Global 4 Miliar Dollar AS
Jumat, 30 Januari 2009 | 08:42 WIB
KOMPAS/WAWAN H PRABOWO
Koalisi Anti Utang dan Aliansi Rakyat Pekerja Yogyakarta berunjuk rasa di depan Kantor Gubernur DI Yogyakarta, Selasa (15/4). Mereka menolak penambahan utang negara karena dinilai akan membuat Indonesia semakin terpuruk.
TERKAIT:

JAKARTA, JUMAT — Tak terelakkan lagi, pemerintah harus berkubang makin dalam di kolam utang. Yang terbaru, pemerintah menjadwalkan penerbitan surat utang jangka menengah di pasar global senilai 4 miliar dollar AS selama tahun ini.

Apa boleh buat, defisit anggaran tahun ini akan mencapai Rp 132 triliun, atau 2,5 persen dari PDB. Untuk menambalnya, pemerintah juga sudah menggali utang dari sana-sini, antara lain dari pinjaman siaga senilai 3,5 miliar dollar AS.

Penerbitan surat utang jangka menengah atau medium term notes (MTN) senilai 4 miliar dollar AS itu sebetulnya tak menguntungkan karena situasi pasar finansial global masih kacau-balau. Tiga hari lalu, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional Paskah Suzetta juga mengatakan, penerbitan obligasi di pasar global bukanlah pilihan menarik.

Untungnya, lembaga pemeringkat Standard&Poors maupun Fitch kemarin sama-sama mempertahankan rating Indonesia. Fitch menilai, Indonesia memiliki kekuatan fundamental untuk pembiayaan publik. Adapun Standard&Poors mempertahankan peringkat BB- karena Pemerintah RI berhati-hati menghadapi risiko eksternal.

Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Departemen Keuangan Rahmat Waluyanto juga berusaha meyakinkan target penerbitan MTN sepenuhnya bergantung pada kondisi pasar. "Kalau permintaan kecil, penerbitannya juga kecil," katanya seraya menambahkan bahwa 4 miliar dollar AS itu hanya target indikatif.

Pemerintah memang masih berpeluang menghindari MTN untuk menambal defisit. Perhitungannya, masih ada Sisa Lebih Penggunaan Anggaran (Silpa) 2008 sebesar Rp 51 triliun. Lalu pinjaman siaga Rp 38 triliun benar-benar cair. Maka, defisit APBN 2009 Rp 132 triliun masih tersisa Rp 43 triliun. Ini masih bisa ditutup dengan instrumen utang lain dengan target pasar dalam negeri. Misalnya, surat utang negara berbasis syariah (sukuk) ritel. Lalu, masih ada peluang menerbitkan Surat Perbendaharaan Negara dengan pembeli Bank Indonesia.

Karenanya, Rahmat berani menyatakan penerbitan MTN global bukan prioritas. "Semoga dari pasar dalam negeri bisa mencukupi," katanya. (Kontan)

Penulis: Uji Agung Santosa,Martina Prianti   |     |   Sumber :KONTAN Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.