Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 19:58 WIB
Awas! 2009 Jumlah Pengangguran Bakal Naik
Wahyu Satriani Ari Wulan | Selasa, 3 Februari 2009 | 11:24 WIB
|
Share:

JAKARTA, SELASA — Akibat dampak krisis keuangan global, diperkirakan jumlah pengangguran akan meningkat hingga 8,5-9 persen pada tahun 2009.

"Analisa ILO, jumlah pengangguran bertambah 170.000-650.000 orang. Berdasarkan analisa, tingkat pengangguran akan naik 8,5-9 persen," kata Programme Manager ILO Jakarta Marcus Powell, saat Seminar Sehari Serikat Buruh Menyikapi Krisis Global di Gedung Yayasan Tenaga Kerja Indonesia (YTKI), Jakarta, Selasa (3/2).

Marcus memaparkan, pada bulan November 2008 Depnakertrans mengatakan ada 20.000 pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Berdasarkan analisa ILO, pada bulan Januari 2009, jumlah pengangguran telah mencapai 24.000 orang dan diprediksi akan meningkat menjadi 26.000 pekerja yang kemungkinan dikenai PHK.

"Saat ini perusahaan tidak melakukan rekrutimen dan mengurangi jam lembur. Untuk menghindari PHK mereka mengubah sistem kerja menjadi pekerja kontrak," ujar Marcus.

Marcus juga mengatakan, sejumlah lokasi tertentu terkena dampak lebih, yaitu di Jawa Barat, karena banyak pekerja di bidang ekspor. "Di Jabar, sudah 15.000 orang yang dikenai PHK di bidang ekspor. Sektor yang paling terpuruk adalah tekstil," tuturnya.

Dampak krisis global juga memengaruhi bidang lain. Ia menyebutkan, pengangguran merupakan gunung es. Di luar itu, juga ada dampak terhadap pengangguran terselubung. Jaminan kerja semakin minim karena banyak orang tergeser ke sektor informal dan kemiskinan akan terus berjalan.

Kelompok lain yang terkena dampak adalah 25 persen anak muda yang saat ini masih menganggur. "Ini diperkirakan naik karena mereka akan kesulitan saat memasuki pasar kerja. Mereka mungkin cuma bisa masuk ke pekerjaan paruh waktu," kata Marcus.

Selain itu, pekerja migran juga akan terkena dampak karena negara lain mungkin terkena dampak yang lebih dalam dibandingkan Indonesia, sepeti Malaysia dan Korea Selatan. Kondisi ini berimbas pada devisa negara yang berkurang dan melemahnya daya beli masyarakat. "Negara lain tidak memberi gaji pekerja migran seperti yang diminta, dan ini membuat devisa berkurang," kata Markus.

Dampak lainnya adalah banyaknya angkatan buruh anak karena orangtua yang di PHK membiarkan anaknya bekerja.