JAKARTA, KAMIS - Industri pasar modal Indonesia dinilai masih kekurangan analis. Kekurangan itu mengakibatkan riset dan analisa yang dilakukan selama ini masih terbatas pada saham-saham unggulan sehingga informasi yang dapat diserap masyarakat menjadi terbatas.
Ketua Umum Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan di Jakarta, Rabu (4/2), mengatakan, saat ini industri pasar modal Indonesia hanya memiliki sekitar 200-250 analis. Sebanyak 150 di antaranya tergabung di dalam AAEI.
Padahal, lanjut Haryajid, berdasarkan penghitungan kasar, industri pasar modal Indonesia paling sedikit membutuhkan 900 analis.
Kebutuhan itu dihitung berdasarkan jumlah perusahaan sekuritas di Indonesia, perusahaan reksa dana atau manajemen aset, asuransi dan perbankan, serta institusi dana pensiun yang jumlahnya lebih dari 700 perusahaan. ”Kalau setiap perusahaan itu butuh 1-3 analis pasar modal, jumlahnya paling tidak 900 orang,” tutur Haryajid.
Menurut dia, Indonesia kekurangan analis pasar modal karena selama ini analis dianggap hanya menambah biaya operasional perusahaan. Padahal, riset dan perkiraan yang dilakukan analis juga berfungsi sebagai alat pemasaran dan pembentukan citra perusahaan.
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Erry Firmansyah mengatakan, jumlah analis pasar modal di Indonesia cukup minim karena kurangnya sumber daya manusia dalam bidang tersebut. Untuk itu, BEI tengah mematangkan rencana pembukaan sekolah pasar modal mulai dari program diploma satu sampai sarjana. (REI)
