JAKARTA, SENIN — PT Pertamina (Persero) menolak mengomentari pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang memberikan sinyalemen bahwa Shell dapat menjadi mitra strategis Pertamina dalam mengelola Blok Natuna D Alpha.
"Kami tidak pada posisi memberi komentar terhadap komentar Wakil Presiden. Saat ini Pertamina masih melakukan seleksi terhadap perusahaan yang masuk ke dalam shortlist," kata juru bicara Pertamina, Anang Rizkani Noor, menjawab pertanyaan yang ditujukan kepada Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan, Senin (9/2).
Pertamina menurutnya akan tetap menentukan calon mitra strategis tanpa campur tangan dari pihak mana pun. "Kami juga masih melakukan pembicaraan tentang terms and conditions dengan pemerintah," tandasnya.
Sebelumnya, pada Minggu kemarin Wakil Presiden Jusuf Kalla mengadakan pertemuan dengan Perdana Menteri Belanda Jan Peter Balkenender di Den Haag, di mana salah satu agendanya adalah membicarakan kemungkinan Shell berpartisipasi dalam pengelolaan Natuna D Alpha.
Kalla, mengutip Antara, menyatakan, Shell yang merupakan perusahaan minyak asal Belanda itu bersedia untuk memindahkan operasi kilang pengolahan minyaknya dari Singapura ke Indonesia.
"Saat ini sudah ada empat perusahaan yang sedang bersaing di tahap akhir di Natuna, antara lain Exxon dari Amerika Serikat, Shell dari Belanda, serta dua perusahaan lain dari Eropa dan China," ujarnya.
Kalla mengaku, Shell sudah mengembangkan bisnis hilirnya di Indonesia dengan konsisten membangun SPBU-SPBU. Pemerintah Indonesia sendiri menginginkan perusahaan tersebut untuk berpartisipasi lebih banyak di sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia.
"Namun, tetap saja bagi kami, Pertamina itu yang harus mengambil posisi dominan di bisnis migas nasional," kata Kalla.
Kepala BKPM Mohammad Lutfi menambahkan, peluang Shell untuk dapat bermitra dengan Pertamina di Natuna D Alpha akan terbuka lebar seandainya Shell jadi memindahkan kilang pengolahan minyaknya ke Indonesia.
Lutfi menyarankan lokasi pembangunan kilang pengolahan tersebut di Batam dan Bintan karena disitu Free Trade Zone. Jaraknya pun hanya 20 kilometer dari Singapura.
"Kalau Shell menerima penawaran tersebut, saya yakin posisi mereka akan lebih baik dibanding kompetitor lain untuk Natuna," kata Lutfi. Dengan memindahkan operasi kilang pengolahannya ke Indonesia, Lutfi berhitung akan ada penyerapan tenaga kerja sebanyak 930.000 orang.
Saat ini, delapan perusahaan minyak telah mendapat undangan dari Pertamina untuk menjadi mitra strategis pengelolaan Blok Natuna D Alpha. Delapan perusahaan tersebut adalah ExxonMobil Oil Indonesia, Total Indonesie, Chevron, Statoil, Shell, ENI, Petronas, dan China National Petroleum Company (CNPC).
Pengembangan Natuna D Alpha sendiri diperkirakan akan menelan biaya investasi mencapai 52 miliar dollar AS. Blok gas ini diperkirakan memiliki cadangan gas cukup besar hingga 46 triliun kaki kubik. Namun, 70 persen cadangan gas tersebut mengandung CO2. (Kontan)
