Senin, 21 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 21 Mei 2012 | 21:31 WIB
Zaidi Diadili, Jahnke Diampuni
| Selasa, 10 Februari 2009 | 05:39 WIB
|
Share:

AP Photo/APTN / Kompas Images
Wartawan televisi Al-Baghdadia, Muntazer al-Zaidi, saat melempar sepatu ke arah Presiden AS George W Bush, dalam jumpa pers di Baghdad, Irak, 14 Desember 2008. Zaidi diadili pekan depan atas tuduhan menghina pemimpin asing.

Bisa saja aksi Martin Jahnke (27) melemparkan sepatu ke arah PM China Wen Jiabao saat berpidato di Universitas Cambridge, London, Inggris, 2 Februari lalu, terinspirasi aksi Muntazer al-Zaidi. Wartawan televisi satelit Al-Baghdadia yang bermarkas di Kairo, Mesir, ini terkenal karena melemparkan sepatunya ke arah mantan Presiden AS George W Bush saat jumpa wartawan dengan PM Irak Nouri al-Maliki di Baghdad, Irak, 14 Desember 2008.

Namun, nasib Jahnke, mahasiswa Jerman di Cambridge, berbeda dengan Zaidi (28). PM China Wen Jiabao, Senin (10/2), dilaporkan mengampuni tindakan Jahnke yang melemparkan sepatu ke arahnya. Sekalipun demikian, Jahnke tetap diajukan ke magister di Cambridge pekan ini.

”Pendidikan merupakan hal terbaik bagi mahasiswa muda dan saya berharap dia dapat terus diberi kesempatan melanjutkan studinya,” ujar PM Wen dalam situs Departemen Luar Negeri China, akhir pekan ini.

”Saya berharap mahasiswa ini mengakui kekeliruannya dan semakin mengenal China yang sesungguhnya,” ujar Wen lagi. Tindakan Jahnke disambut kecaman keras dari media massa China. Jahnke dicap sebagai orang yang tidak memahami China secara baik.

Jahnke sempat meniup peluit dan berteriak, ”Bagaimana universitas melacurkan dirinya dengan seorang ditaktor?” Dia lantas melemparkan sepatu hitam ke panggung, tetapi jatuh agak jauh dari tempat PM Wen berdiri. Wen hanya menghentikan pidatonya sebentar saat kejadian.

Pengampunan PM Wen ini memungkinkan Jahnke tetap bisa melanjutkan studinya di Cambridge. Apalagi, dia sudah secara terbuka menyampaikan permitaan maaf atas ulahnya. Mungkin dewan magister Universitas Cambridge bakal memberikan peringatan keras kepada Jahnke.

Zaidi diadili

Berbeda nasib dengan Jahnke, Zaidi terus meringkuk dalam tahanan sejak kasus melemparkan sepatunya ke arah Bush. Sekalipun ulah Zaidi ini mendapat pujian di seluruh negara-negara Arab, dianggap seorang pahlawan, Zaidi tetap harus diseret ke pengadilan. Jadwal pengadilan atas Zaidi ditetapkan pekan depan.

Zaidi dikenai tuduhan menghina pemimpin asing. Pejabat pengadilan Irak, Minggu, mengatakan, Zaidi tetap diadili setelah pengadilan menolak keringanan tuduhan kepadanya.

Zaidi hanya beruntung, pengadilannya yang dijadwalkan Desember bisa diundur. Tim pengacara Zaidi berhasil menunda sidang, tetapi gagal dalam mendapatkan keringanan hukuman baginya.

Juru bicara pengadilan, Abdul-Sattar Bayrkdar, mengatakan, pengadilan menolak permohonan pengurangan tuduhan dan memerintahkan Zaidi untuk menghadapi pengadilan pada 19 Februari. Bayrkdar menolak berspekulasi berapa hukuman yang bakal didapat Zaidi berkaitan dengan tuduhan kepadanya. Tim pembela Zaidi mengatakan, dengan tuduhan menyerang dan menghina itu, Zaidi bisa dikenai hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Aksi Zaidi membuatnya menjadi pahlawan di seluruh negara Arab. Ribuan orang berdemonstrasi menuntut Zaidi dibebaskan. ”Ini ciuman perpisahan Anda, anjing. Ini dari para janda, yatim piatu, dan mereka yang terbunuh di Irak,” teriak Zaidi dalam bahasa Arab saat melempar sepatu ke arah Bush.

Bush bisa menghindar dari sepatu lemparan Zaidi. Namun, aksi ini membuat Bush, Amerika Serikat, dan PM Maliki sangat malu. Dan, semua ini yang membuat Zaidi tetap harus dihadapkan ke pengadilan.

Dhia al-Saadi, pengacara Zaidi, tetap berupaya memohon keringanan hukuman bagi kliennya. ”Pengadilan harus mempertimbangkan bahwa tindakan Zaidi itu sebuah ’ekspresi nasionalistis’ yang tidak bermaksud mencederai Bush secara fisik, tetapi memperlihatkan penolakannya atas ’pendudukan’,” papar Saadi.

Dikatakan, tipe ekspresi seperti ini sudah dikenal di AS dan Eropa, di mana orang melempar telur atau tomat ke arah pemimpin mereka untuk memperlihatkan penolakan atas kebijakan mereka. ”Saat Zaidi melempar sepatunya ke arah Bush, itu merupakan bentuk ekspresi politik. Jadi, tidak ada tuduhan kriminal,” ujar Saadi kepada Associated Press Television News.

Direktur Televisi Al-Baghdadia Abdul-Hamid al-Saeh mengaku kecewa karena tak ada keringanan tuduhan atas Zaidi. ”Kami menegaskan bahwa kasus Zaidi ini sebagaimana terjadi di negara demokrasi di mana orang mengekspresikan opininya,” ujar Saeh.

Zaidi tak bisa lain hanya menunggu keputusan pengadilan. Namun, aksi beraninya tetap tercatat dalam sejarah. Bahkan, gaya ini sudah ditiru Jahnke. (AFP/ppg)

Sumber :
Kompas Cetak