Senin, 21 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 21 Mei 2012 | 21:43 WIB
Akhir Tahun 2009, Tak Ada Minyak Tanah Bersubsidi
Dian Pujayanti | Selasa, 10 Februari 2009 | 20:21 WIB
|
Share:

KOMPAS/AGUS SUSANTO
Layung, penjual minyak tanah keliling sejak 1978, tengah memindahkan minyak tanah ke jeriken di Kelurahan Palmeriam, Kecamatan Matraman, Jakarta Timur, Senin (17/3). Sebelum adanya program konversi minyak tanah ke gas, ia bisa menghabiskan 300 liter sehari dan kini hanya 100 liter per hari dengan keuntungan bersih Rp 25.000.

TERKAIT:

JAKARTA, SELASA — Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Akhmad Faisal menyatakan rencana jangka pendeknya untuk membebaskan masyarakat dari minyak tanah bersubsidi akhir tahun 2009. Hal tersebut disampaikannya dalam rapat dengar pendapat Komisi VII DPR RI di Jakarta, Selasa (10/2).

"Rencana konversi 2009, target distribusi paket perdana sebesar 23.044.211. Kami merencanakan akhir tahun 2009, seluruh masyarakat bebas dari minyak bersubsidi," jelas Akhmad di ruang Nusantara DPR RI. Lebih detail Akhmad memaparkan progres hingga Februari 2009 realisasi tabung dan kompor (KK) sebesar 1.396.876 dengan akumulasi 2007-2008 mencapai 20.408.522.

Sementara untuk refil+perdana LPG (MT) dari target 1.682.234 dan akumulasi tahun 2007-2008 mencapai 718.245 pencapaian hanya di angka 5 persen. Khusus bagi penarikan minyak tanah realisasi yang mampu direalisasikan hanya 431.791 dari target 4.168.082.

"Untuk memenuhi pasokan pemerintah menginstruksikan Pertamina untuk membuat SPBE berskala besar di Tanjung Priok sebanyak 1.000 unit, 750 di Tanjung Priok, dan Surabaya 500 unit," terang Akhmad.

Saat ini realisasi pencapaian per wilayah untuk distribusi elpiji 3 kilogram dari total target 23.044.211 sebanyak 1.336.844 RT telah menggunakan elpiji bersubsidi, usaha mikro 60.032. Bandingkan dengan distribusi pada tahun 2008 meraup 15.062.551 KK dan 2007 sebanyak 3.975.789 KK.