Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 12 Februari 2012 | 00:38 WIB
Dirut Pertamina Harus Jawab Semua Masalah
Rachmat Hidayat | Rabu, 11 Februari 2009 | 13:48 WIB
|
Share:

persdaNetwork/Bian Harnansa
Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan (kanan), dan mantan Dirut Pertamina Ari H Soemarno (kiri)

TERKAIT:

JAKARTA, RABU — Belum dijawabnya semua permasalahan yang kini masih terjadi di internal Pertamina kini masih mengganjal kalangan anggota Komisi VII DPR, yang kemarin menggelar rapat dengar pendapat dengan Dirut Pertamina yang baru, Karen Agustiawan. Anggota Komisi VII, Bambang Wuryanto, Rabu (11/2), menyatakan, masalah internal Pertamina memang sangat banyak.

"Banyak sekali pertanyaan kepada Dirut Pertamina, kemudian ditunda kemarin. Waktu menjadi molor sehingga Dirut harus menjawabnya secara komprehensif, menjawab semua permasalahan yang dipertanyakan. Salah satu masalah yang perlu dijawab adalah masalah ISC itu," kata Bambang.

Soal pembentukan ISC (integrated supply chain), kata Bambang, menjadi salah satu carut marutnya permasalahan Pertamina, apalagi sejak akhir tahun lalu, ISC sudah melaksanakan tugasnya.

"ISC sudah bertugas sejak November 2008 lalu. Ini memang perlu dievaluasi. Paling tidak evaluasi yang dilakukan adalah perubahan dari sistem desentralisasi menuju sentralisasi," kata Bambang.

Selasa kemarin, Dirut Pertamina, Karen Agustiawan sempat disandera Komisi VII DPR RI dalam rapat kerja. Karen sempat mengemukakan, alasan dipanggil oleh Istana Negara untuk membahas pasokan gas ke pabrik Pupuk Kujang dalam rapat terbatas bersama dengan Presiden dan para menteri bidang ekuin yang terpaksa menunda keberangkatannya.

Karen, dalam dengar pendapat kemarin, seakan hanya menjadi pendengar yang baik. Anggota Komisi VII lainnya, Effendy Simbolon, kemarin, juga meluapkan kekecewaannya kepada Dirut. "Jangan hanya karena itu (dipanggil Presiden ke Istana) saja, semua takut. Kalian nampaknya hanya loyal ke sana. Asal tahu saja, Presiden dan DPR itu sejajar. Anda (Karen) itu tidak cukup umur dan dengan masuknya Anda merusak merit system yang ada di Pertamina. Anda tidak memiliki kualitas dan pengalaman untuk menjadi dirut salah satu BUMN andalan negara," tegas Effendy Simbolon.

Karen Agustiawan juga dianggap hanya memiliki kapasitas untuk melindungi bouchir-bouchir (majikan) yang menguasai Pertamina. Effendi menegaskan, ada tiga bouchir di Pertamina yang menguasai trading, hulu, dan urusan suplai menyuplai. "Kalau hanya untuk melindungi kepentingan bouchir itu, kapasitas dan kualitas Anda memang lebih dari cukup soal itu," tegas Simbolon kemarin.
 
Sumber :
Persda Network