LAMONGAN, JUMAT — Udang vannamae di Lamongan sering terserang penyakit, sedang sebagian areal pertanian di Lamongan sering asin dan tidak bisa ditanami padi. Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Lamongan mencarikan solusi dengan pengembangan budi daya ikan kakap putih. Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Mustakim Arif, Jumat (13/2), mengatakan sebagai tahap pengembangan dalam skala kecil dilaksanakan di areal sawah tambak.
"Pengembangan budi daya ikan kakap putih di areal tambak masih dalam tahap percobaan. Setelah berjalan akan dihitung kelayakan ekonominya, apakah dari biaya produksi memungkinkan untuk diproduksi masyarakat secara massal. Kalau hasilnya layak, tentu akan disosialisasikan ke masyarakat," kata Mustakim.
Langkah itu berpijak pada pengalaman dalam pengembangan udang vannamae. Pada awal pengembangan udang vannamae yang habitat aslinya air payau sukses dikembangkan di air tawar oleh petani Lamongan.
Mustakim menjelaskan langkah selanjutnya dikembangkan bagian usaha pengembangan bibit unggul masyarakat. Beberapa pengembangan bibit unggul perikanan yang berhasil dikembangkan masyarakat Lamongan di antaranya budi daya ikan kerapu di wilayah pantai utara Lamongan di Desa Labuhan Kecamatan Paciran dengan sistem keramba di laut. "Empat tahun lalu Lamongan meraih juara II Nasional budi daya ikan kerapu," kata Mustakim.
Selain ikan kerapu, di pantura juga dikembangkan budi daya ikan kepiting khas Lamongan yang lebih dikenal dengan nama rajungan. Budi daya ini juga menggunakan sistem keramba di laut. Rajungan pada usia satu hingga satu setengah bulan sudah mencapai ukuran konsumsi sehingga cukup singkat budi dayanya.
Mustakim menambahkan, sementara ini bibit rajungan masih diambil dari alam dari anak rajungan yang menepi ke pantai saat air surut. Saat ini karena belum begitu banyak dibudidayakan, pemasarannya masih sebatas ke restoran-restoran lokal. Harga satu kilogram rajungan berisi sekitar empat ekor mencapai Rp 40.000.

