Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 22:18 WIB
Perkuat Rupiah, Pemerintah Jajaki BSA
Wahyu Satriani Ari Wulan | Senin, 23 Februari 2009 | 15:26 WIB
|
Share:

JAKARTA, SENIN — Gubernur Bank Indonesia (BI) Boediono mengatakan akan menjajaki kerja sama bilateral swap arrangement (BSA) untuk memperkuat cadangan devisa. Cadangan devisa ini diharapkan dapat memperkuat posisi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, terutama dollar AS.

"Intinya bahwa kita ingin menjaga rupiah tetap pada tingkat yang realistis dan tidak volatil (gejolak), bukan harus terlalu kuat. Caranya dengan memperkuat cadangan devisa," kata Boediono, di Depkeu, Jakarta, Senin (23/2). Cadangan devisa Indonesia saat ini mencapai 50,89 miliar dollar AS.

Boediono memaparkan, BSA merupakan second line defence yang sewaktu-waktu dapat ditarik jika diperlukan. Namun, Boediono enggan mengatakan lebih lanjut dengan pihak mana saja penjajakan dilakukan. "Mungkin ini masih saya buat sebagai misteri, tidak etis kalau disampaikan sementara proses akan dan sedang berjalan," katanya.

Sebelumnya Jepang meningkatkan jumlah BSA dari semula 6 miliar dollar AS menjadi 12 miliar dollar AS. Menurut Boediono, sebagai tindak lanjut dari BSA dengan Jepang, nantinya akan ada penandatanganan perjanjian antara perjanjian Bank of Japan dengan BI.

Fasilitas ini bersifat nonkomersial dengan biaya bunga di bawah pasar. "Perkiraan kami LIBOR plus minus 1,5 persen," ujarnya.

Indonesia dapat menarik dana dari BSA dengan Jepang kapan pun ketika diperlukan, terutama dalam rangka menenangkan pasar. "Begitu suasana di pasar mengharuskan kita tarik, akan kita lakukan penarikan, untuk menenangkan pasar," tutur Boediono.