Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 12 Februari 2012 | 04:59 WIB
Harga Gula di Semarang Tembus Rp 7.500 per Kg
Winarto Herusansono | Rabu, 25 Februari 2009 | 19:57 WIB
|
Share:

SEMARANG, RABU — Harga gula pasir lokal di pasaran Kota Semarang dan sekitarnya, seminggu terakhir ini, merangkak naik. Harga gula lokal di konsumen sudah mencapai Rp 7.500 per kilogram, atau naik sebesar Rp 600 per kilogram. Harga gula sebelumnya masih berkisar Rp 6.900 per kilogram.

Pengelola toko kelontong di Pedurungan, Kota Semarang, Nurhadi, Rabu (25/2), mengatakan, kenaikan harga gula itu akibat tingginya permintaan gula di pasaran.

"Kalau beli gula pasir di pasar, harga kini sudah mencapai Rp 7.350 per kilogram. Harga ini sudah dua kali naik dari harga sebelumnya Rp 6.900 per kg," kata Nurhadi.

Pedagang lain di Semarang, Purwanto, menyatakan, kenaikan harga gula ini diperkirakan akibat menipisnya persediaan gula lokal yang diproduksi pabrik gula di Jateng. Namun anehnya, kata Purwanto, harga gula di supermarket bisa lebih murah di bawah Rp 6.500 per kilogram.

Pedagang gula besar di Pasar Johar, Semarang, malahan minta Pemerintah Provinsi Jateng untuk segera mengurangi atau membatasi perdagangan gula lokal antarpulau. Praktik perdagangan gula antarpulau, dengan cara mengapalkan gula lewat Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, dinilai sebagai faktor penyebab kenaikan harga gula.

Bila tidak segera dilakukan pembatasan perdagangan gula antarpulau, dikhawatirkan, seminggu lagi harga gula lokal bisa tembus ke angka Rp 8.000 per kilogram. Hal itu dikatakan Wahyudi, pedagang gula.

Kepala Perum Bulog Divisi Regional Jawa Tengah Harry Syahdan mengemukakan, pihaknya yang juga mendapat tugas menyalurkan perdagangan gula heran dengan adanya kenaikan harga di pasaran. Pasalnya, Bulog yang menjual gula dari sejumlah pabrik gula di Jateng sudah seminggu ini sepi transaksi.

"Kami masih berpatokan pada harga tebus gula masih sekitar Rp 5.300 per kilogram. Kalau ada pedagang atau penyalur yang berani menyalurkan gula lebih satu ton, silakan ambil. Kami punya stok lumayan banyak," kata Harry Syahdan.

Kendati begitu, Harry Syahdan mengakui, Bulog bukan satu-satunya penyalur gula lokal. Soalnya, pabrik gula sendiri diperbolehkan menjual gula langsung ke pedagang yang membeli langsung. Jadi, kalau ada kenaikan harga di pasaran, tentunya sumber kemungkinan ulah pedagang gula di pasaran umum.