Selasa, 14 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Selasa, 14 Februari 2012 | 18:52 WIB
Penarikan Pinjaman Siaga Bisa 4,4 Miliar Dollar AS
| Kamis, 26 Februari 2009 | 10:54 WIB
|
Share:

JAKARTA, KAMIS -  Kondisi pasar obligasi yang masih gonjang-ganjing, membuat pemerintah kemungkinan besar akan memakai pinjaman siaga (standby loan) untuk menutup lubang defisit. "Standby loan akan kami pakai untuk tutupi kebutuhan 4,4 miliar dollar AS," kata Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas Paskah Suzetta di Jakarta, kemarin.

Hanya saja, Paskah menegaskan, pemerintah baru menggunakan pinjaman siaga itu kalau target penerbitan obligasi tidak tercapai.

Selain pinjaman siaga, kata Paskah, pemerintah juga akan memanfaatkan tambahan pinjaman program sebesar Rp 1,1 triliun untuk membantu menambal defisit anggaran.

Seperti kita tahu, dua hari lalu pemerintah dan DPR menyepakati defisit APBN 2009 sebesar Rp 139,5 triliun atau 2,5 persen dari produk domestik bruto (PDB). Ini lebih besar dari defisit anggaran tahun lalu yang hanya 1 persen dari PDB.

Akibat membengkaknya defisit anggaran itu, pemerintah mesti mencari utang baru sebesar Rp 45,6 triliun. Sebanyak Rp 1,1 triliun di antaranya berasal dari tambahan pinjaman program. Sisa yang Rp 44,5 triliun rencananya dari utang atau penerbitan obligasi.

Pemerintah sendiri sudah mengantongi komitmen standby loan total 5,5 miliar dollar AS. Rinciannya, dari Bank Pembangunan Asia (ADB) sebesar 1 miliar dollar AS, Bank Dunia US$ 2 miliar, Bank Pembangunan Islam (IDB) 500 juta dollar AS, Pemerintah Australia 1 miliar dollar AS, serta Pemerintah Jepang 1 miliar dollar AS.

Pinjaman bilateral

Tapi, dari jumlah itu baru 500 juta dollar AS yang sudah masuk saku pemerintah, yakni yang berasal dari ADB. Sisa komitmen baru akan diputuskan dalam Sidang Tahunan ADB yang rencananya digelar di Bali pada Mei nanti.

Menteri Keuangan Sri Mullyani Indrawati menjamin pinjaman yang bakal dicairkan pemerintah berasal dari sumber pembiayaan yang paling baik. "Pokoknya saya akan menggunakan sumber yang paling baik dan paling kecil risiko dan bebannya," katanya.

Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan (Depkeu) Anggito Abimanyu bilang, pemerintah bakal mencari sumber tambahan pinjaman program secara bilateral. Jadi "Bukan dari pinaman multilateral," katanya.

Sayang, Anggito enggan menyebut nama-nama negera, yang masuk incaran. Tapi yang pasti semua sumber pembiayaan untuk menutup defisit sudah aman, termasuk yang dari luar negeri. (Kontan/Martina Prianti)

Sumber :
KONTAN