Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 23 Mei 2012 | 08:35 WIB
Indonesia Harus Agresif Buru Investor Timteng
Fransiskus Asisi Agung Setiawan | Minggu, 1 Maret 2009 | 21:47 WIB
|
Share:

KOMPAS/AGUS SUSANTO
Warga melintas di depan toko khusus barang pecah belah yang sebagian besar terbuat dari plastik di Jalan Raya Narogong, Bekasi, Rabu (25/2). Beragam cara dilakukan untuk mendongkrak penjualan dan menarik perhatian warga pada masa krisis, seperti menempel aneka barang di depan toko tersebut.

TERKAIT:

JAKARTA, MINGGU - Indonesia mesti agresif untuk merebut hati para investor negara-negara Arab atau Timur Tengah.  Kekayaan yang dipunyai negara-negara tersebut membuat banyak negara mengharapkan mereka berinvestasi di negaranya. Untuk itu Indonesia mesti cepat bergerak dan berbenah.

Demikian diungkapkan Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Erwin Aksa pada kesempatan World Islamic Economic Forum di Jakarta, Minggu (1/3). Menurut Erwin, para Investor Timur Tengah memiliki kriteria yang sangat tinggi dalam berinvestasi. "Harus ada untung yang tinggi, aman, punya kepastian hukum yang tinggi, dan yang terpenting nyaman," kata Erwin. Melalui pertemuan World Islamic Economic Forum (WIEF),

Erwin menambahkan, event WIEF menjadi kesempatan bagi pemerintah Indonesia untuk menunjukkan bahwa perekonomian kita memiliki fundamental yang baik. Namun hal ini, sebagaimana dibenarkan Erwin, tidaklah mudah. "Ada isu-isu yang mengganggu keamanan ( di Indonesia), birokrasi yang sulit, yang dipublikasikan secara internasional dan nasional, yang membuat mereka khawatir," kata Erwin.

Untuk itu, Erwin mengatakan, kita mesti meluruskan pandangan tentang Islam. "kita harus luruskan bahwa Islam itu ancaman atau teror buat mereka (negara-negara barat). Islam itu negara yang berkembang, kita beri contoh yang positif," katanya.

Menurut Erwin, investasi yang diminati oleh para investor Timur Tengah adalah bidang agrobisnis, telekomunikasi, mineral, minyak dan gas. "Saat ini mereka telah masuk melalui pasar modal dan membeli perusahaan yang sudah ada, seperi Indosat dan XL," ungkap Erwin.

Disebutkan Erwin, Indonesia harus melakukan pendekatan personal untuk mendapatkan kucuran investasi dari negara-negara teluk tersebut. "Caranya adalah dengan sering roadshow sebagaimana telah dilakukan oleh Malaysia," kata Erwin.

Ia berharap, dengan pertemuan WIEF ini, Indonesia bisa melakukan pendekatan yang baik dengan para investor Timur Tengah sehingga Indonesia bisa cepat keluar dari krisis ekonomi. "Karena sebagai negara Muslim terbesar di dunia ini sebuah ironi. Ini negara muslim terbesar di dunia tetapi finacingnya tidak dari sana (Timur Tengah)," ujar Erwin.