Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 23 Mei 2012 | 08:38 WIB
Presiden: Kita Dibombardir Zaman Mengerikan
Wahyu Satriani Ari Wulan | Senin, 2 Maret 2009 | 11:09 WIB
|
Share:

JAKARTA, SENIN - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membuka World Islamic Economic Forum (WIEF) ke-lima yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 2 hingga 3 Maret 2009 di Ritz Carlton Pacific Palace Hotel, Jakarta. Pembukaan Forum ditandai dengan pemukulan gong yang dilakukan Presiden diiringi dengan tabuh bedug.

Acara ini diselenggarakan untuk menciptakan dialog antara pengusaha muslim dan juga antara pengusaha non muslim. Dari dialog tersebut masalah ekonomi penting yang terjadi bisa terjawab dan terpecahkan.

Sebelumnya upacara pembukaan Pre-Forum WIEF dibuka pada Minggu, 1 Maret 2009 , oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. Forum ke 5 ini dibuka dengan dua isu penting yang dimunculkan dalam tema "Food and Energy Security&Stemming the Tide of Global Financial Crisis".

Dalam sambutannya, Presiden mengatakan saat ini dunia tengah dilanda krisis ekonomi dimana pertumbuhan menunjukkan penurunan, industri juga menurun, kekayaan menurun dan sejumlah modal mulai pergi. Amerika Serikat juga sudah mengalami resesi.

"Kita dibombardir oleh zaman yang mengerikan. Ada kemungkinan kondisi ini akan memburuk lagi. Ini terjadi dimana-mana dan berdampak pada semua orang termasuk masyarakat Islam," kata Presiden, di Jakarta, Senin (2/3).

Presiden menyatakan Muslim menduduki 1/5 penduduk dunia, tapi hanya 7 persen produksinya berperan di dunia. Dari 50 negara, sekitar 22 negara muslim belum berkembang dan mempunyai utang.

Meski demikian, negara muslim tidak terlalu terkena dampak dari krisis. Perbankan muslim juga tidak berdampak seperti dunia Barat. "Negara muslim belum berdampak seperti negara Barat: Kondisi perbankan Muslim juga bagus," tuturnya.

Terkait kondisi perbankan syariah, Presiden juga menyebutkan pemerintah Indonesia telah mengeluarkan sukuk ritel dan banyak diterima investor. Selain itu, dalam sambutannya, Presiden juga mengatakan mengenai ketahanan energi dengan melakukan konversi energi seperti memberdayakan bio energi untuk mengatasi krisis energi. Menurutnya, biofuel dapat menyerap tenaga kerja 7-15 kali lebih banyak.

"Saat ini perlu adanya diversifikasi yang ramah lingkungan dengan cara baru. Antara negara muslim hqrus meningkatkan kerjasama dan investasi di bidang biofuel," katanya.

Presiden memaparkan ada tiga krisis yang dihadapi saat ini, krisis ekonomi, krisis energi Dan pangan, serta krisis iklim. Krisis ini saling terkait sehingga dibutuhkan solusi. "Untuk itu dengan langkah kebijakan yang tepat kita bisa mengatsi krisis ini," tuturnya.

Menurutnya, banyak cara untuk merespon tantangan ini, termasuk dengan kerjasama internasional. Indonesia juga bergerak cepat dengan membawa berbagai yang memangku kepentingan bersama termasuk Bank Sentral untuk mengatasi krissis.

Langkah yang diambil Indonesia dengan tidak memperketat regulasi perbankan, meningkatkan jaminan plafon, dan menggunakan paket stimulus fiskal yang mencapai 1,4 persen dari GDP.

Pemerintah Indonesia juga menjaga defisit Bilateral Swapt Agreement. "Kami juga mengundang IDB untuk pendanaan. Ini untuk mengatasi keseimbangan pembayaran. Kami telah meningkatkan pendanaan dari 80 jadi 120 miliar dollar AS," papar Presiden.

Pada kesempatan itu, Presiden juga mengusulkan membentuk muslim fund, untuk mengatasi krisis ketahanan energi dan pangan.

Hal senada disampaikan Chairman WIEF Tun Musa Hitam. Musa Hitam mengatakan saat ini seluruh dunia sedang merasakan kekhawatiran energi dan krisis pangan.

"Sekarang, tidak ada seorang pun yang dapat terhindar dari krisis Sekarang semua dunia mengalami krisis. Para pemimpin dunia semuanya diuji. Tidak ada seorang pun didunia ini yang dapat nmenemukan solusi sempurna bagaimana untuk menghadapi krisis," katanya. Dia mengajak seluruh delegasi, pemimpin negara untuk bersama-sama mengatasi krisis saat ini.

Tun Musa juga menyampaikan ucapan terimakasih ke Presiden RI dan seluruh rakyat Indonesia untuk menjadi tuan rumah forum kelima WIEF. "Kami ucapkan terima kasih pada Presiden RI dan negara lain serta peserta yang telah memberikan dorongan yang sangat kami hargai," paparnya.