Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 23 Mei 2012 | 09:25 WIB
Pemerintah Belum Ada Rencana Ubah Harga BBM
Gentur Putro Jati | Selasa, 10 Maret 2009 | 12:58 WIB
|
Share:

KOMPAS/RIZA FATHONI
Petugas stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU) Pertamina di Jalan Penjernihan, Jakarta, melayani pengisian premium untuk kendaraan pribadi.

TERKAIT:

JAKARTA, SELASA - Tanda-tanda harga minyak dunia bakalan kembali menguat di bulan Maret kian terbaca. Dalam situs resmi Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) Departemen ESDM, tim Harga Minyak Indonesia memperkirakan, ada sejumlah faktor yang menyebabkan hal tersebut.

Pertama, pemotongan kuota produksi anggota-anggota OPEC dalam pertemuan 15 Maret 2009 di Wina, Austria. Kemudian disetujuinya paket stimulus sebesar 787 miliar dollar AS oleh Senat Amerika Serikat yang dapat menggerakkan perekonomian dan ujungnya berdampak terhadap meningkatnya permintaan energi, termasuk minyak.

Terakhir, munculnya kekhawatiran pasar mengenai kemungkinan terganggunya suplai minyak mentah dari Nigeria akibat serangan kelompok militan di wilayah Niger Delta dan kembali beroperasinya PLTN stasiun Kashiwazaki setelah terhenti akibat kerusakan yang disebabkan gempa pada Juli 2007 lalu, juga dapat memperkuat harga minyak bulan Maret.

Meski demikian, pemerintah tampaknya tidak akan mengubah harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi pada 15 Maret nanti.

Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro juga telah memastikan surplus yang diterima pemerintah dari menetapkan harga premium Rp 4.500 per liter selama dua bulan yaitu Desember 2008 dan Januari 2009 akan berubah menjadi defisit pada perhitungan subsidi Februari dan Maret ini. "Januari memang surplus, namun sekarang premium sudah negatif karena harganya di atas Rp 4.500 per liter," kata Purnomo, akhir pekan lalu.

Pemerintah menurutnya akan menggunakan keuntungan penjualan premium selama dua bulan tersebut guna menutupi kucuran subsidi yang harus dikeluarkan pemerintah untuk menutupi harga keekonomian premium sepanjang Februari dan Maret ini.

Karena itulah, Direktur Jenderal Migas Evita Herawati Legowo menegaskan sampai saat ini pemerintah belum berencana mengubah harga BBM bersubsidi per 15 Maret mendatang. "Sementara kami belum merencanakannya, walaupun setiap hari kami hitung," kata Evita, Senin (9/3).

Asal tahu saja, pada Desember 2008 lalu pemerintah mengantongi Rp 1,2 triliun dari penjualan premium bersubsidi. Sementara sepanjang Januari 2009 angkanya sebesar Rp 2,06 triliun. Jadi secara total ada Rp 3,26 triliun dana surplus yang bisa digunakan pemerintah untuk menutupi subsidi. (Kontan)

 
Sumber :
KONTAN