KUDUS, SELASA — Harga gula pasir/gula putih (white sugar) di pasaran umum terus melonjak. Pada Selasa (10/3), harga gula rata-rata Rp 6.600 per kilogram. Bahkan sangat mungkin akan bergerak naik lagi karena harga gula internasional juga meningkat dan seluruh pabrik gula di Indonesia belum memasuki musim giling 2009.
Selain itu, menurut kalangan petani tebu di Kabupaten Kudus, sejumlah pedagang besar berani memberikan uang muka lebih dahulu kepada mereka Rp 5.700 per kilogram.
Menurut Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Abdul Wachid, naiknya harga gula dalam negeri merupakan sinyal bagi petani tebu yang bakal memperoleh penghasilan lumayan baik dibanding hasil produksi/musim giling 2008.
"Jika ada pedagang besar yang berani memberikan uang muka Rp 5.700 per kilogram, maka saya anjurkan kepada petani jangan mau menerima lebih dahulu karena berdasarkan analisa saya pedagang itu yang akan memperoleh keuntungan besar," tegasnya.
Memang, tutur Abdul Wachid, pemerintah belum menetapkan dana talangan bagi petani tebu, tetapi pihaknya sudah menyiapkan besaran dana talangan 2009 Rp 5.600 per kilogram. Ini artinya, pihak penyandang dana akan membeli gula hasil bagi petani minimal Rp 5.600. Jika lebih dari Rp 5.600, maka akan diperhitungkan dengan rumus seperti tahun-tahun sebelumnya.
Ia menambahkan, selain dipicu kenaikan harga gula internasional dan belum memasuki musim giling 2009, kenaikan harga gula dalam negeri juga diakibatkan seluruh stok gula yang ada di pabrik gula dalam negeri sudah terjual kepada pedagang besar.
Pemerintah, lewat Menteri Perdagangan, berencana akan mengimpor gula, tetapi masih koordinasi dengan departemen lain, termasuk APTRI. "Terutama menyangkut nasib petani tebu sehingga tidak perlu tergesa-gesa," tambah Abdul Wachid.
Administratur pabrik gula Rendeng Kudus, Joko Wahjoediono, melalui stafnya, Tri Priyanto, menyatakan, kemungkinan besar musim giling 2009 mundur karena sampai sekarang masih sering turun hujan sehingga sangat mengganggu proses kemasakan tebu.
"Melihat kondisi lapangan, kami optimis total poduksi tebu, gula, maupun rendemen musim giling 2009, minimal sama dengan musim giling 2008. Artinya, petani masih tetap diuntungkan," katanya.
Adapun menurut pantauan APTRI, produksi tebu dan gula nasional 2009 diperkirakan bakal turun sekitar 15 persen dibanding 2008 karena sebagian petani beralih menanam tanaman lain yang lebih menguntungkan.
Bangkitnya kembali pabrik gula Pakis Baru di Kecamatan Tayu Kabupaten Pati sejak musim giling 2008 (meski tidak sesuai rencana) dan musim giling 2009 jauh lebih siap dan bakal memunculkan persaingan sehat, baik dengan PG Rendeng maupun PG Trangkil (Pati). Hal itu termasuk penyerapan ribuan tenaga kerja baru.


