KOMPAS
Kamis, 18 Maret 2010 Selamat Datang  |     |  
Puncak PHK Seusai Pemilu?
Jumat, 13 Maret 2009 | 10:19 WIB
Kristianto Purnomo
Buruh yang tergabung dalam Aspek Indonesia melakukan unju rasa memperingati Hari Buruh, di Depan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta.
TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com — Gelombang PHK lantaran krisis ekonomi global bakal terus terjadi sepanjang tahun ini. Ada perkiraan PHK akan mencapai puncaknya seusai Pemilu 2009.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan, bagi pengusaha, pemilu termasuk stimulus bisnis. Karena ada pemilu, permintaan meningkat. Maka, penjualan banyak industri juga naik. "Namun, seusai pemilu penurunan produksi yang riil bisa ketahuan secara menyeluruh," katanya kemarin.

Ia memperkirakan, pengusaha akan sulit menghindari PHK. Dampak permintaan yang anjlok akan makin terasa. Apalagi, pada saat itu beban biaya produksi juga meningkat.

Apindo belum bersedia merilis penghitungannya, berapa pekerja yang akan jadi penganggur setelah pemilu. Yang jelas, data Apindo daerah menyatakan, sampai Maret sudah ada 240.000 orang yang kena PHK. Repotnya, itu terjadi pada sektor-sektor usaha yang penting dan bersifat padat karya, seperti tekstil dan garmen sebanyak 100.000 orang, sepatu (14.000), mobil dan komponen (40.000), konstruksi (30.000), kelapa sawit (50.000), serta pulp and paper (3.500).

Sementara itu, data resmi Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) menyebut, hingga 6 Maret 2009 sudah ada 37.909 orang yang terkena PHK.

Direktur Pengupahan dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja Depnakertrans Sihar Lumban Gaol menjelaskan, perusahan melakukan PHK atau merumahkan karyawannya karena produksi turun. Permintaan pasar yang kian lemah, kenaikan biaya produksi, dan harga bahan baku yang cukup signifikan adalah penyebab mengapa produksi industri terus merosot. (Martina Prianti/Kontan)

Sumber :KONTAN Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.