
JAKARTA, KOMPAS.com — Denyut jantung pasar modal di Indonesia justru tidak berada di Indonesia, tetapi berada di Amerika atau Eropa. Hal ini mengakibatkan semua yang terjadi di Amerika dan Eropa akan berimbas di Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Chief Economist Bursa Efek Indonesia (BEI) Edison Hulu di sela-sela seminar mengatasi krisis Pasar Saham, di St Morizt Puri Indah, Jakarta, Sabtu (21/3).
"Ini terjadi karena kita tidak menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Sebagian besar pemain saham di Indonesia justru pemodal asing," kata Edison.
Pengamat Pasar Modal Robert Item menuturkan, masih minimnya pemain saham dari dalam negeri karena kurangnya edukasi pasar tentang pasar modal. Untuk itu, menurutnya, BEI perlu melakukan edukasi terhadap orang awam.
"Edukasi seharunya untuk orang awam," ujarnya.
Ia menilai, roadshow edukasi pasar modal yang telah dilakukan BEI selama ini kurang tepat sasaran. Sebab, edukasi disampaikan ke sekuritas. "Sekuritas lantas mengajari ke investor mereka juga, jadi bukan orang awam. Pengenalannya juga pengenalan bursa, bukan tentang bagaimana untuk investasi. Jadi, sasarannya salah," katanya.
Padahal, ia menuturkan, saham merupakan alternatif investasi yang lebih baik dibandingkan menyimpan dalam bentuk cash di bank. "Dimasukkan ke saham lebih baik daripada kalau kita taruh cash atau di bank saja, nanti kena devaluasi," tuturnya.