BANYUMAS, KOMPAS.com - Departemen Kehutanan (Dephut) bersedia menyiapkan lahan pembangkit listrik tenaga panas bumi untuk memenuhi kebutuhan listrik Indonesia di masa mendatang sebesar 4.300 megawatt.
"Kami sediakan lahan karena pada umumnya, sumber panas bumi di Indonesia berada di lahan konservasi," kata Direktur Jenderal (Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Dephut, Darori, di Kebun Raya Baturaden, Banyumas, Jawa Tengah, Senin.
Menurut dia, berdasarkan data yang ada, 70 persen sumber panas bumi di dunia berada di Indonesia sehingga perlu dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan listrik negara ini. Ia mengatakan, salah satu lahan konservasi yang telah dikembangkan untuk pembangkit listrik tenaga panas bumi berada di Garut, Jawa Barat, dengan menggandeng perusahaan asing Chevron.
"Areal yang digunakan tidak luas, sekitar 5-10 hektare dan pipa berada di atas tanah sehingga tidak merusak lingkungan," katanya.
Dengan adanya pembangkit listrik tersebut, kata dia, lahan konservasi dapat terjaga selama 24 jam. Selain di Garut, kata dia, lahan konservasi yang mulai dimanfaatkan untuk pembangkit listrik panas bumi berada di Pegunungan Dieng, Jawa Tengah.
Disinggung mengenai potensi panas bumi di Baturaden, menurut dia, hal itu akan dikembangkan dengan menggandeng investor jika memungkinkan. Sebuah investor di bidang pembangkit panas bumi, Tri Energi Jakarta, pada 2008 lalu pernah melakukan survei terhadap potensi panas bumi di kawasan Baturaden Banyumas. Berdasarkan survei itu diketahui cadangan panas bumi di sekitar Baturaden mampu menggerakkan turbin berkapasitas 185 MW atau 10 MW-15 MW tiap kilometer persegi.
