Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 23 Mei 2012 | 10:30 WIB
Ekspor TPT Harus Waspadai Musim Panas
Josephus Primus | Senin, 30 Maret 2009 | 16:29 WIB
|
Share:

KOMPAS/ARUM TRESNANINGTYAS
Krisis global berdampak pada turunnya produksi tekstil di CV Sandang Nasional di Jalan Cimuncang, Bandung, Jawa Barat, Rabu (18/2). Kondisi tersebut telah berlangsung empat bulan dan terus menurun, dari semula 1,8 ton kain menjadi 1,2 ton per hari. Sisa produksi kain yang tidak terjual semakin banyak, mencapai 50 persen dari jumlah produksi per hari.

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com — Deputi Menko Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan Edy Putra Irawady memperkirakan bahwa ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia pada April-Mei akan bersaing ketat dengan produk serupa dari negara lain.
   
"Bulan April-Mei sudah mulai memasuki musim panas dan banyak eksportir lain yang juga masuk ke pasar musim panas," kata Edy Putra di Jakarta, Senin (30/3).
   
Menurut dia, eksportir Indonesia harus hati-hati memasuki bulan April karena komoditas dari negara lain masuk dengan produk yang sama dan kualitas yang tidak beda jauh dengan produk Indonesia. Ia menyebutkan, Indonesia masih memiliki keunggulan ketika pasar memasuki musim dingin dibanding dengan negara lain.
   
Edy memperkirakan, karena persaingan ketat itu total nilai ekspor Indonesia pada April kemungkinan akan mengalami penurunan menjadi sekitar 3 hingga 4 miliar dollar AS dibanding kondisi biasa yang mencapai sekitar 7 hingga 8 miliar dollar AS.
   
Mengenai penurunan ekspor menyusul dampak krisis global, Edy mengatakan, ekspor dapat dilihat dari negara tujuannya dan komoditasnya.
   
Sebagian besar ekspor Indonesia selama ini adalah ke Singapura, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, dan Amerika Serikat. "Ekspor ke Singapura mengalami penurunan besar karena perusahaan-perusahaan dagang di sana kolaps karena dampak krisis keuangan global," katanya.
   
Dari sisi komoditas ekspor, ekspor unggulan Indonesia adalah produk primer baik perkebunan, perikanan, maupun tambang. "Barang-barang itu tetap diperlukan sehingga kemungkinan tidak akan mengalami penurunan drastis," katanya.
Sumber :
Ant