WASHINGTON, KOMPAS.com — Hampir tiga perempat dari CEO yang duduk bersama dalam Business Roundtable bakalan memecat pekerjanya dalam enam bulan ke depan lantaran penjualan terus menyusut. Hal ini terungkap dalam survei yang dibeberkan pada hari Selasa (7/4) kemarin. Tentu saja, ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja sepertinya masih suram, setidaknya hingga akhir tahun ini.
Sebanyak 71persen dari CEO mengatakan bahwa mereka masih akan melakukan pemecatan hingga enam bulan ke depan. Jumlah ini naik dari survei yang dilakukan pada November lalu yang menunjukkan sekitar 60 persen CEO menyebutkan hal tersebut. Asal tahu saja, angka tersebut paling tinggi sejak survei dimulai tahun 2002. Sementara itu, 21 persen memprediksikan pengupahan terhadap karyawan tidak akan banyak berubah, dan sisanya sebanyak 7 persen memprediksi akan menambah karyawannya.
Survei ini melibatkan 100 CEO dari perusahaan terbesar di AS yang dilakukan dari 16 Maret hingga 27 Maret lalu. Suramnya outlook untuk pasar tenaga kerja muncul lantaran CEO mulai mengantisipasi menciutnya penjualan dan investasi bisnis dalam enam bulan ke depan. Sebanyak 67 persen menyatakan penjualan mereka akan anjlok, dan 66 persen mengatakan mereka akan memangkas pengeluaran dan kebutuhan yang menggerus modal.
Mereka menghitung PDB AS bakalan anjlok sebesar 1,9 persen tahun ini. Padahal, tahun lalu mereka memperkirakan perekonomian AS tahun ini akan sama dengan tahun lalu alias flat.
Business Roundtable Chairman Harold McGraw, CEO The McGraw-Hill Cos, mengatakan bahwa angka-angka itu merepresentasikan tekanan yang begitu signifikan dalam bisnis di AS. Ia mengharapkan perekonomian akan berputar dan menjadi lebih baik pada akhir tahun ini. "Ini adalah waktu-waktu yang paling buruk yang kita miliki," kata McGraw. Namun, ia yakin akan melihat sejumlah kemajuan dalam beberapa waktu yang akan dayang.
Laporan prediksi oleh CEO ini muncul setelah pemerintah mengumumkan pemangkasan karyawan sejumlah 663.000 orang pada bulan Maret dan adanya pengurangan jam kerja ke level yang cukup rendah.
Tingkat pengangguran bulan lalu mencapai 8,5 persen, naik dari 8,1 persen pada bulan Februari. Angka itu merupakan yang paling tinggi dalam seperempat abad ini. (Femi Adi Soempeno/Kontan)

