Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 23 Mei 2012 | 23:16 WIB
Tarif Makin Murah, Kinerja Operator Melemah
| Senin, 4 Mei 2009 | 11:10 WIB
|
Share:

Kompas/Riza Fathoni
Staf salah satu operator seluler nasional melayani pelanggan di mobil pelayanan di kawasan Buaran, Jakarta, Senin (29/12). Sejumlah operator seluler menggunakan strategi pelayanan dengan menjemput konsumen di pusat keramaian di tengah persaingan antaroperator guna meraih pelanggan sebanyak-banyaknya.

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com — Perang tarif yang terus berkobar telah berbuah pahit bagi para operator telekomunikasi. Tak hanya menggerus kinerja mereka, kualitas layanan pun merosot. Lantaran operator banting-bantingan harga, jumlah pelanggan membludak. Akibatnya, kapasitas jaringan semua operator penuh sehingga kualitas jaringan jadi semakin buruk.

Tahun lalu para operator memang berlomba-lomba menurunkan tarif. Ini setelah terbitnya Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No 09/2008 dan Permenkominfo No 15/2008 pada April 2008 yang mengharuskan penurunan tarif interkoneksi antaroperator hingga 30 persen.

Akibat beleid ini, tarif ritel, baik seluler alias global system for mobile communications (GSM) maupun layanan tetap (fix lined) dan code division multiple access (CDMA), semua operator ikut melorot. Maklum, kontribusi tarif interkoneksi terhadap tarif ritel mencapai 60 persen.

Alhasil, kinerja para operator telekomunikasi pun merosot. Kinerja operator raksasa macam PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) pun ikut tergerus.

Sebagai operator incumbent, Telkom mengaku kehilangan pendapatan besar sejak pemberlakukan penurunan tarif interkoneksi. "Sepanjang 2008, akibat penurunan interkoneksi, kami kehilangan pendapatan Rp 1 triliun," kata Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah, 29 April.

Kualitas menurun

Meski belum merilis laporan keuangannya, kabarnya Telkom hanya mampu meraup pendapatan Rp 64,9 triliun sepanjang 2008. Ini naik 4 persen dari Rp 62,49 triliun pada 2007. Sialnya, beban biaya justru bengkak. Misalnya, biaya program pensiun saja sebesar Rp 500 miliar. Telkom juga rugi kurs lebih dari Rp 1 triliun. Walhasil, laba bersih 2008 Telkom diperkirakan turun 12 persen menjadi Rp 11,32 triliun.

Kinerja PT Indosat Tbk kurang lebih sama. Sepanjang 2008, pendapatan Indosat naik 13,2 persen dari Rp 16,49 triliun menjadi Rp 18,66 triliun. Sayang, Indosat hanya mengantongi laba bersih Rp 1,8 triliun, turun 8 persen dibandingkan 2007. Direktur Pemasaran PT Indosat Tbk Guntur Siboro mengakui, laba bersih Indosat melorot salah satunya karena penurunan tarif. Namun, dia menambahkan, faktor terbesar penurunan laba Indosat adalah makroekonomi. "Banyak faktor ekonomi, salah satunya adalah kurs rupiah yang anjlok," kata Guntur.

Miftadi Sudjai, pengamat telematika dari Institut Teknologi Telkom, mencatat, sejak terjadi penurunan tarif pada April 2008, hampir semua operator besar mengalami penurunan pendapatan.

"Kompetisi memang menekan EBITDA (laba sebelum pajak, bunga, depresiasi, dan amortisasi) operator. Indosat turun 2,9 persen, Telkom turun 4 persen, sementara PT Excelcomindo Pratama (XL) stabil," kata Miftadi.

Juru bicara XL, Myra Junor, menolak jika perusahaannya disebut merugi akibat persaingan tarif. "Net loss ini bukan penurunan revenue, saat itu tarif rupiah kan anjlok, suku bunga bank juga naik," katanya.

Pada 2008 XL meraup pendapatan bersih Rp 9,76 triliun, naik 51,08 persen dibandingkan 2007, Rp 6,46 triliun. Hanya saja, selama 2008, XL mengalami rugi bersih Rp 15 miliar.

Apapun dalih operator, sebagian besar kalangan sepakat persaingan tarif berimbas pada kinerja operator dan kualitas layanan.

Johnny Swandi Syam, Direktur Utama Indosat yang sekaligus Ketua Komite Tetap Telekomunikasi Kamar Dagang dan Industri Indonesia, mencatat, tarif telekomunikasi di Indonesia mernang turun drastis sejak April 2008.

Sebelum perang tarif, biaya telekomunikasi Indonesia peringkat kedua termahal setelah China. Namun, setelah perang tarif, biaya telekomunikasi di Indonesia tercatat sebagai salah satu yang terendah di dunia.

Selain itu, gara-gara ketatnya perang tarif, kualitas layanan operator juga memburuk. "Itu karena kemampuan meningkatkan kapasitas dan coverage operator berkurang sehingga kualitas layanan menurun," kata Johnny. (Yudo Widhianto, Danto/Kontan)

Sumber :
KONTAN