Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 23 Mei 2012 | 23:21 WIB
Meski Krisis, Industri Garmen Tumbuh Positif
Frans Agung Setiawan | Selasa, 5 Mei 2009 | 16:23 WIB
|
Share:

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA
Produksi pakaian jadi untuk ekspor di kawasan Cakung, Jakarta Utara, Selasa (6/1). Krisis keuangan global tidak berpengaruh signifikan terhadap industri skala menengah ini meskipun sebagian besar produknya diekspor ke pasar Eropa.

TERKAIT:

BOGOR, KOMPAS.com - Meski krisis ekonomi global melanda dan banyak pegawai garmen di-PHK, industri garmen nasional ternyata mencatat pertumbuhan positif sekitar 0,18 persen untuk skala nasional.

"0,18 persen tersebut data yang didapat sampai akhir 2008," kata Ferry Dzulkifli, Manager Senada Regio Bandung saat ditemui usai seminar Meningkatkan Perusahaan Garmen melalui Investasi pada Sumber Daya Manusia di International Garment Training Center (IGTC) Bogor, Jawa Barat, Selasa (5/5). Senada merupakan proyek USAID (United State agency for International Development) di Indonesia untuk membantu daya saing industri, salah satunya adalah industri garmen.

Pertumbuhan positif ini, lanjut Ferry, terjadi karena Indonesia tidak tergantung pada pasar Amerika Serikat. "Indonesia diselamatkan karena masih ada 24-26 persen pasar Eropa, Jepang dan Timur Tengah," ungkap Ferry. Sedangkan di negara lain kebanyakan pertumbuhannya negatif. Untuk Asia hanya Vietnam yang sangat menonjol, dengan mencatat pertumbuhan mencapai 30 persen.

Lebih lanjut, Andres Saldias, Pakar Garmen Internasional dari Bolivia yang pada pemberitaan sebelumnya tertulis Andres Poso dari Amerika Serikat, mengatakan bahwa untuk masa mendatang usaha garmen di Indonesia cukup menjanjikan. Hal tersebut dilihat dari 4 bulan pertama 2009 terindikasi perbaikan kondisi ekonomi di dunia. "Artinya akan tumbuh banyak industri garmen," kata Andres.  

Menurutnya, sikap optimis ini didukung dengan fakta bahwa Indonesia punya lebih dari 5,5 juta orang yang bekerja di industri tekstil. Indonesia berada pada peringkat sepuluh penyedia tekstik terbanyak di dunia. "Ini adalah potensi untuk bisnis tekstil sekaligus untuk industri garmen," ungkap Andres yang juga punya toko dan pabrik garmen.