Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 23 Mei 2012 | 23:28 WIB
Peran Timur Tengah bagi Devisa Indonesia
Samuel Oktora | Rabu, 6 Mei 2009 | 06:21 WIB
|
Share:

cache.daylife.com
Di tangan CEO Abdulla Al Hamli, kelak, DIB diharapkan beri kontribusi signifikan di kawasan regional dan internasional sebagai perbankan syariah terkemuka.

DUBAI, KOMPAS.com — Kawasan Timur Tengah merupakan salah satu pasar pariwisata potensial bagi Indonesia di samping Asia dan Eropa, yang kini turut diperhitungkan untuk meningkatkan devisa. Dari target kunjungan 6.500.000 wisatawan mancanegara, Indonesia tahun 2009 membidik 50.000 wisatawan khusus dari Timur Tengah, terutama dari  Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Iran.  

"Meski jumlah wisatawan jika dibandingkan tahun lalu, pengunjung dari Timur Tengah masih jauh dari Singapura, tapi kawasan itu prospeknya bagus karena mereka negara kaya dan masyarakat di sana suka berbelanja dan melakukan perjalanan," kata Direktur Promosi Luar Negeri Departemen Kebudayaan dan Pariwisata I Gde Pitana, Selasa (5/5), di sela acara pembukaan Arabian Travel Market (ATM) yang digelar 5-8 Mei 2009 di Dubai International Convention and Exhibition Centre, Uni Emirat Arab.

ATM 2009, Selasa pukul 11.00 waktu setempat, dibuka oleh Chairman and CEO of Emirates Airline and Group Sheikh Akhmed bin Saeed Al Maktoum, yang didampingi Group Exhibition Director Reed Travel Exhibitions Mark Walsh.

ATM merupakan kegiatan promosi mengenai industri kepariwisataan yang telah dimulai sejak 1994, dan Indonesia sejak awal ATM digelar telah berpartisipasi. Tahun ini sedikitnya 2.000 peserta dari 69 negara yang mewakili dari 6 benua mengikuti acara ini.  Peserta ATM dari Indonesia kali ini sebanyak 33 perusahaan pelaku pariwisata, dua di antaranya dari Dinas Pariwisata Jawa Timur dan DKI Jakarta.

Menurut Pitana, dari 7 negara di kawasan Timur Tengah, pasar paling potensial adalah Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Iran. Sementara 4 negara Timur Tengah yang lain seperti Irak, Oman, Kuwait, dan Qatar kurang signifikan, salah satunya karena tak ada akses penerbangan langsung dari negara tersebut ke Indonesia.   

Jumlah pengunjung dari Timur Tengah juga meningkat rata-rata 25 persen dari Januari sampai April 2009 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Hal ini menunjukkan, meski krisis keuangan global orang-orang masih mengalokasikan anggaran mereka untuk perjalanan dan waktu luang, kata Pitana.

Direktur Promosi Luar Negeri Departemen Kebudayaan dan Pariwisata itu juga menyinggung, target dari program Visit Indonesia Year 2009 tetap sama dengan pencapaian tahun 2008 karena pertimbangan situasi krisis keuangan global. Jumlah pengunjung luar negeri tahun 2008 mencapai 6,5 juta orang dengan perolehan devisa mencapai 7,6 miliar dollar AS. Tema Visit Indonesia Year 2009 Marine (wisata bahari) and MICE (Meeting, Incentives, Convention and Exhibitions) Tourism.

Senior Manager The Samaya Seminyak Bali Johannes W Makatita mengaku tertarik dan baru mengikuti ATM tahun ini untuk yang pertama kalinya. "Tamu di vila kami akhir-akhir ini banyak dari Timur Tengah, terutama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Vila kini menjadi tren bagi orang-orang berduit, sebab mereka selain menuntut prestise, juga ingin kenyamanannya tidak diganggu dengan keramaian. Di sisi lain orang-orang dari Timur Tengah juga tergolong high spender dalam mengeluarkan uang untuk shopping," kata Johannes.   

Director of Sales Hotel Le Grandeur Mangga Dua Jakarta Jamal Muhamad yang turut serta dalam ATM mengatakan, promosi gencar dari Pemerintah Indonesia ke kawasan Timur Tengah harus dilakukan karena umumnya orang-orang di Dubai tidak mengenal pariwisata Indonesia. Indonesia di mata orang-orang Dubai lebih dikenal dengan TKI-nya.

Sementara itu, Sheikh Akhmed bin Saeed Al Maktoum menyinggung, lewat penyelenggaraan ATM tahun ini juga menunjukkan kehebatan dan industri pariwisata di kota properti dunia itu yang benar-benar sehat, meski terjadi krisis ekonomi global.