SEMARANG, KOMPAS.com — Para pengusaha mebel dari Jawa Tengah (Jateng) mulai merambah pasar baru untuk mengantisipasi krisis finansial yang tak kunjung berakhir.
Direktur Utama PT Ina Culture Product (ICP) Prima Semarang Basuki, Rabu (6/5), mengatakan, para pengusaha mebel mulai membidik pasar di negara-negara Eropa Timur, antara lain Bosnia, Ukraina, dan Chechnya.
"Sebab, pasar ekspor yang lama, terutama Amerika sudah tidak prospektif mengingat krisis finansial yang menimpanya," katanya saat Pameran Usaha Kecil Menengah (UKM) Rakyat di Lawang Semu Semarang.
Oleh karena itu, kata Basuki, pembukaan pasar baru adalah langkah tepat untuk menyiasati agar usahanya dapat tetap bertahan di tengah krisis finansial yang menghantam semua sektor perekonomian.
Ia mengatakan, berkaitan dengan pembukaan pasar baru di Eropa Timur tersebut, pihaknya dalam bulan ini akan mengirim sebanyak tiga kontainer ke negara-negara tersebut.
Menurut dia, produk-produk yang akan mencoba dipasarkan di Eropa Timur rata-rata adalah produk indoor (dalam ruangan), antara lain almari, meja kursi, dan kerajinan lainnya.
Disinggung tentang nilai penjualan ke wilayah tersebut, ia enggan menyebutkannya. "Namun, pasar Eropa Timur cukup potensial untuk penjualan mebel," katanya.
Selain merambah pasar baru di Eropa Timur, pihaknya juga tetap melayani pasar domestik karena pasar domestik masih tetap potensial.
Sementara itu, pengusaha mebel lain, Zaenal, mengatakan, para pengusaha mebel sebenarnya juga ingin membuka pasar ke wilayah Timur Tengah, tetapi sampai saat ini pasarnya masih sulit ditembus. "Penyebabnya, karena pertimbangan kondisi keamanan dan tingginya suhu politik di wilayah tersebut," katanya.
Ia mengatakan, untuk memasarkan produk mebel membutuhkan kepandaian dan kecermatan dalam melihat pasar sehingga sangat tergantung kecermatan pengusaha untuk melihat prospek pasar yang cukup potensial. "Terjadinya krisis finansial memang membuat pasar mebel di wilayah Amerika cukup terkena dampaknya, namun pasar di Asia Timur masih cukup prospektif," katanya.
Ia menambahkan, untuk menyiasati agar usaha tidak gulung tikar memang harus diupayakan dengan langkah merambah pasar baru yang lebih potensial. "Namun, sebaiknya pasar lama yang masih cukup potensial, di antaranya Asia Timur harus tetap dipertahankan, di samping mencari pasar baru yang lebih prospektif yaitu Eropa Timur," katanya.

