Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 23 Mei 2012 | 23:36 WIB
"Hot Money" Terus Banjiri Indonesia
| Kamis, 7 Mei 2009 | 10:30 WIB
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com — Ini masih kabar mengenai dana asing jangka pendek atau hot money yang mengalir deras ke pasar finansial kita. Dana itu mengalir ke saham maupun wahana investasi surat utang.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan, pada periode 27 April hingga 1 Mei 2009, investor asing melakukan pembelian bersih Rp 1,30 triliun di pasar saham Indonesia. Menurut data Bloomberg, sejak awal tahun, posisi beli bersih asing di pasar saham Indonesia senilai 357,9 juta dollar AS (sekitar Rp 3,72 triliun). Nilai transaksi saham harian di BEI pun naik Rp 5 triliun-Rp 6 triliun per hari.

Situasi di pasar obligasi juga tidak jauh berbeda. Per 5 Mei posisi kepemilikan asing di Surat Utang Negara (SUN) mencapai Rp 85,10 triliun. Jika menghitung dari posisi kepemilikan asing akhir Maret lalu yang sebesar Rp 79,83 triliun, artinya porsi kepemilikan asing di SUN naik 6,6 persen.

Transaksi obligasi pun mulai menggeliat. "April lalu ada peningkatan transaksi sebesar 15 persen dari Maret," kata Direktur Perdagangan, Fixed Income dan Derivatif BEI Guntur Pasaribu, kemarin (6/5).

April lalu, rata-rata nilai transaksi harian obligasi Rp 2,6 triliun-Rp 2,8 triliun. Ini lebih tinggi ketimbang nilai transaksi harian obligasi sebulan sebelumnya yang masih senilai Rp 2,4 triliun.

Analis obligasi Trimegah Securities Agus Salim mengatakan, dana asing masih mungkin terus masuk. Agus menilai, perdagangan obligasi akan kembali menarik kalau dana asing mencapai Rp 90 triliun.

Penurunan 0,25 persen BI Rate menjadi 7,25 persen kemungkinan akan menambah deras aliran dana asing ke pasar keuangan Indonesia. Tapi, berhati-hatilah. Jika asing tiba-tiba hengkang dan membawa pulang hot money, pasar finansial bisa anjlok dan rupiah jeblok. (Wahyu Tri Rahmawati, Fitri Nur Arifenie/Kontan)

Sumber :
KONTAN