JAKARTA, KOMPAS.com - Terus merangkak naiknya harga minyak mentah atau crude palm oil (CPO) di pasar dunia yang kini bertengger hampir di kisaran 60 dollar AS per barel cukup mengkhawatirkan akan kembali melonjaknya besaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) ataupun kenaikan harga produk tersebut.
Menteri Keuangan sekaligus Plt. Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati mengatakan saat ini pemerintah terus melakukan evaluasi makro, seperti harga minyak dan nilai tukar rupiah.
"Akan kita lihat harga minyak maupun kurs nanti kita akan lihat pengaruhnya terhadap prediksi penerimaan negara. Kemudian juga pengeluaran subsidi kita. Tetapi kan kemarin Januari-Maret hampir tidak ada subsidi," kata Menkeu.
Dalam APBN 2009 , pemerintah menggunakan acuan harga minyak 50 dollar AS per barel dan dengan kurs 11 ribu. "Harga minyak saat ini memang sampai 58,6 dollar AS per barel, tapi seperti kita ketahui selama Januari, Februari hingga Maret harga minyak dibawah 40 dollar AS per barel," ujarnya.
Menyikapi kenaikan harga minyak saat ini pemerintah akan melihatnya pada Juli nanti. "Yang kita lihat bulan Juli, kalau ada revisi yang berubah sangat besar dari kurs maupun harga minyak nanti kita akan lihat," ujarnya.

