JAKARTA, KOMPAS.com — Mimpi buruk para investor reksadana saham mulai sirna. Jika tahun lalu reksadana saham jeblok karena Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 50,36 persen, kini hasil reksadana saham kembali menggoda. Nilai aktiva bersih (NAB) beberapa reksadana saham bahkan sudah naik di atas 30 persen dalam sebulan terakhir.
Misalnya, Si Dana Saham terbitan Batavia Prosperindo yang NAB-nya naik hingga 49,2 persen. Siapa yang tak tergiur dan berpikir: inikah saat yang tepat untuk kembali membeli reksadana saham?
Para analis ternyata menyarankan investor sebaiknya tetap berhati-hati memanfaatkan momentum ini. "Saat ini, kenaikan IHSG cukup mengejutkan. Tapi, kita belum tahu apakah kondisi ini benar-benar berlanjut atau tidak," ujar Andreas Gunawidjaja, Direktur Mandiri Manajemen Investasi, Senin (11/5) kemarin.
Menurut Andreas, prospek reksadana saham ke depan sangat tergantung pada kelangsungan pasar saham domestik dan regional. Maklum saja, pasar saham domestik kerap bergerak mengikuti sentimen pasar regional dan global. Sayangnya, hingga kini belum ada pengamat pasar modal yang berani memastikan pasar saham global telah kembali ke tren bullish.
Terlepas dari kondisi itu, sejatinya investor reksadana saham yang berorientasi jangka panjang bisa masuk kapan pun. Sekarang pun boleh dibilang saat yang tepat untuk berbelanja reksadana saham.
Apalagi, IHSG mungkin akan terus naik hingga menjelang pemilihan umum presiden nanti. "Koreksi pasti ada tapi trennya naik terus," prediksi Wawan Hendrayana, Analis Infovesta Utama, lembaga riset reksadana.
Bagi mereka yang tidak berorientasi jangka panjang sebaiknya menetapkan target tertentu. "Misalnya, setelah naik 20 persen, tarik dulu keuntungannya dan sisakan pokoknya saja," saran Wawan. Kemudian, saat IHSG turun, mereka bisa berbelanja lagi.
Investor sebaiknya juga mencermati isi portofolio saham reksadana incarannya. Reksadana yang lebih dominan menempatkan dana pada saham-saham komoditas, kemungkinan akan mempunyai kinerja yang lebih baik. "Karena kenaikannya cukup agresif," ungkap Andreas. (Wahyu Tri Rahmawati, Sandy Baskoro/Kontan)


