Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 00:01 WIB
Dalam Lima Bulan, 51.350 Orang Jadi Pengangguran
| Rabu, 13 Mei 2009 | 09:49 WIB
|
Share:

DHONI SETIAWAN
Gabungan serikat pekerja menggelar aksi memperingati Hari Buruh dengan berjalan dari Bunderan Hotel Indonesia menuju Istana Negara, Jakarta Pusat, Jumat (01/05). Mereka menuntut pemerintah segera menghapus sistem kerja kontrak dan menaikan upah layak bagi buruh.

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah mengklaim jumlah ini masih jauh dari perkiraan sebelumnya. Korban pemutusan hubungan kerja (PHK) terus berjatuhan meski jumlahnya belum banyak. Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) mencatat, sejak awal tahun hingga Mei ini korban PHK di Indonesia mencapai 51.350 orang.

Kendati sudah melibas puluhan ribu orang, jumlah ini ternyata masih jauh dari perkiraan pemerintah sebelumnya, yakni sebanyak 1,5 juta orang. Dengan kata lain, jumlah PHK tersebut hanya setara 3,4 persen dari prediksi awal. "Kalau dulu, dengan adanya krisis, kami perkirakan PHK bisa 1 juta-1,5 juta orang. Tapi sekarang, laporan yang baru saya terima, jumlahnya hanya 51.000-an orang," kata Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno di Jakarta, Selasa (12/5) kemarin.

Erman bilang, jumlah pekerja yang dipecat tersebut sudah termasuk sekitar 7.800 tenaga kerja Indonesia (TKI) yang dipulangkan dari luar negeri. Artinya, 43.850 orang merupakan pekerja yang di-PHK perusahaan Indonesia.

Kendati begitu, PHK di Indonesia memang tidak sedahsyat negara lain. Sebab, pemerintah gencar menangkal dampak krisis global melalui pemberian stimulus fiskal. "PHK massal itu tidak terjadi di negara kita," ungkap Erman berbangga.

Pernyataan Erman ini mungkin ada benarnya. Namun, pelan tetapi pasti, jumlah PHK di Indonesia terus bertambah. Catatan Kontan menunjukkan, hingga 24 April lalu, jumlah pekerja yang sudah terkena PHK baru mencapai 49.175 orang. Artinya, dalam tempo sepekan, sudah ada penambahan PHK sebanyak 2.175 orang pekerja. Jumlah ini belum termasuk pekerja yang dirumahkan sebanyak 21.740 orang.

Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Keria Myra Maria Hanartani pernah bilang, pemutusan kerja paling banyak terjadi di Sumatera Selatan, Jakarta, Riau, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Tengah, dan Banten.

Pengangguran 8,3 persen

Uniknya, data itu ternyata tidak membuat heran Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Bangunan dan Pekerjaan Umum Sjukur Sarto. Menurutnya, kecilnya angka PHK ini terjadi karena kebangkitan sektor perkebunan kelapa sawit dan industri tekstil. Bisnis perkebunan kelapa sawit kini bangkit lantaran harga minyak sawit mentah mulai membaik. "Industri tekstil menggeliat lantaran permintaan dalam negeri yang mulai meningkat," ujarnya.

Padahal, sebelumnya, sejumlah kalangan meramalkan kedua sektor ini bakal menjadi penyumbang PHK terbesar. "Prediksi saya, PHK tahun 2009 hanya sekitar 70.000-100.000 orang," kata Sjukur.

Erman berjanji, Depnakertrans akan memberdayakan pengalihan profesi dan pembukaan kegiatan produktif bagi para korban PHK. Depnakertrans akan memakai dana stimulus Rp 300 miliar buat mendanai aksi ini.

Meski begitu, Erman tidak yakin bahwa tingkat pengangguran tahun ini bisa berada di bawah 8 persen dari total angkatan kerja. Makanya, pemerintah memilih mempertahankan tingkat pengangguran di level 8,3 persen. "Kalau 7 persen masih berat. Kalau di angka 8 persen mungkin bisa," tuturnya. (Hans Henricus B., Anna Suci/Kontan)

Sumber :
KONTAN