JAKARTA, KOMPAS.com - Dua negara di kawasan Timur Tengah yakni Dubai dan Bahrain tengah melirik untuk melakukan investasi pada perbankan syariah di Indonesia. Pakar perbankan syariah Muhammad Syafii Antonio mengatakan di Jakarta, Kamis (14/5) mengatakan, Dubai dan Bahrain sedang bersaing menjadi pemain utama perbankan syariah di dunia.
"Indonesia merupakan potensi investasi besar yang menjadi perhatian kedua negara," katanya. Dubai berambisi menjadi pusat ekonomi syariah dunia, melalui Dubai Bank berencana membuka 20 cabang di seluruh dunia.
Sementara, Al-Barakah Islamic Bank dari Bahrain, pernah akan membuka cabang bank syariah di Indonesia, diawali membuka kantor perwakilan di Jakarta. Syafii Antonio mengatakan, perbankan syariah sebagai representasi ekonomi Islam, saat ini menunjukkan perkembangan luar biasa.
"Jumlah dana yang dikelola 396 bank syariah yang tersebar di 53 negara makin besar, lebih kurang 700 miliar dolar US dengan rata-rata pertumbuhan 15 persen,"kata anggota dewan syariah Bank Sentral Malaysia itu. Menyikapi hal itu, katanya, Indonesia menghadapi tantangan dalam meyakinkan para investor bahwa negeri ini kondusif untuk tujuan investasi.
Menurut anggota Komite Ahli Bank Indonesia itu, untuk meyakinkan investor di sektor perbankan tersebut diperlukan kerjasama berbagai kalangan, yakni Bank Indonesia, Pemerintah Daerah, dan lembaga perpajakan. "Yang jadi persoalan selama ini, adalah mental birokrasi kita yang masih ’suka’ pada dinar," kritiknya.
Menurut dia, berbagai praktik pungutan liar dari kalangan birokrasi yang menyebabkan biaya tinggi bagi investor, harus dihilangkan di Indonesia.


