Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 00:35 WIB
Meski Harga Turun, Penjualan Emas Tetap Lesu
Amanda Putri Nugrahanti | Selasa, 19 Mei 2009 | 18:54 WIB
|
Share:

SEMARANG, KOMPAS.com — Penjualan emas di Kota Semarang lesu setelah terjadinya krisis global karena daya beli masyarakat melemah. Meskipun harga emas turun, masyarakat tetap urung membeli emas.

Ketua Asosiasi Pengusaha Emas dan Permata Indonesia (Apepi) Jawa Tengah Bambang Yuwono di Kota Semarang, Selasa (19/5), menyampaikan, kondisi toko emas kini dalam kondisi serba sulit. Kondisi terparah terasa saat harga emas 24 karat mencapai Rp 378.000 per gram.

"Saat itu hampir setiap hari tidak ada transaksi yang terjadi. Kalau ada satu dua pembeli, biasanya untuk keperluan pernikahan atau arisan," kata Bambang.

Bahkan, dua toko emas di Kota Semarang gulung tikar Februari lalu. Hal itu disebabkan tingginya biaya operasional tidak diimbangi dengan pendapatan yang cukup.

"Pemerintah juga tidak mau tahu dengan kondisi ini, tidak ada keringanan pajak untuk pengusaha yang kesulitan. Padahal kalau pendapatan kami bertambah, pajak juga meningkat," ujar Bambang.

Kini, ketika harga emas 24 karat menginjak Rp 300.600 per gram, ada angin segar bagi para pedagang emas. Namun, jumlah pembeli juga tidak seberapa, hanya satu hingga dua orang per hari.

Bambang menjelaskan, tidak banyak orang yang membeli emas karena daya beli masyarakat melemah. Tingginya angka pemutusan hubungan kerja (PHK) sangat berpengaruh terhadap daya beli masyarakat. Apalagi penduduk Kota Semarang rata-rata bekerja sebagai karyawan.

"Tidak ada uang lebih untuk dibelikan emas. Berbeda ketika Idul Fitri, karena orang mempunyai uang lebih, mereka bisa membelanjakan emas untuk simpanan," tutur Bambang.

Harga emas 75 persen saat ini Rp 229.500, 70 persen Rp 214.500, dan 42 persen Rp 128.500 per gram. Sedangkan emas putih Rp 150.000 per gram. Untuk emas perhiasan, harga tersebut masih ditambah ongkos pengerjaan 10-15 persen.

Jessy dari Toko Mas Pak Tani juga mengungkapkan hal serupa. Saat ini pembeli menurun 80-90 persen dibandingkan saat sebelum krisis. "Biasanya kalau saat-saat menjelang kenaikan kelas seperti ini banyak yang jual emas. Tetapi nyatanya juga tidak ada yang menjual. Apalagi yang membeli," kata Jessy.