Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 00:36 WIB
Waduh, Minyak Tembus 60 Dollar AS
Erlangga Djumena | Rabu, 20 Mei 2009 | 08:35 WIB
|
Share:

NEW YORK, KOMPAS.com — Harga minyak mentah menyentuh posisi tertinggi enam bulan di atas 60 dollar AS per barrel, di tengah menguatnya pasar saham yang mengindikasikan meningkatnya optimisme untuk pemulihan ekonomi. Kerusuhan di Nigeria juga menambah tekanan kenaikan harga minyak.
    
Kontrak berjangka utama New York, minyak mentah jenis light sweet untuk pengiriman Juni, meningkat menjadi 60,48 dollar AS per barrel—sebuah level yang terakhir terlihat pada 10 November—sebelum berakhir 62 sen lebih tinggi dari penutupan Senin (18/5), menjadi 59,65 dollar AS per barrel.
    
Dengan kontrak Juni yang jatuh tempo pada Selasa (19/5), para pedagang sebagian besar terkonsentrasi pada kontrak Juli, yang ditutup pada 60,03 dollar AS.

Adapun minyak mentah jenis Brent untuk pengiriman Juli juga sempat menyentuh posisi tertinggi enam bulan pada 59,65 dollar AS per barrel, sebelum mundur kembali menjadi 58,92 dollar AS, naik 45 sen dari penutupan Senin. "Harga minyak mencapai posisi tertinggi mereka sejak November lalu, didukung oleh menguatnya pasar saham dan meningkatnya ketegangan di Delta Niger," kata analis dari Barclays Capital.

Para analis lainnya memperingatkan harga yang bergelombang ke depan karena pasar mengukur prospek untuk pemulihan ekonomi di Amerika Serikat yang terpukul resesi. "Waktu pemulihan ekonomi sangat penting karena persediaan (minyak) masih tinggi, permintaan masih rendah, OPEC (kartel kuat minyak) sedang berupaya memangkas lebih banyak produksinya," kata Adam Sieminski dari Deutsche Bank.

"Itu memberikan kesan bahwa pasar sedang 'overly heated' (terlalu panas)," kata dia, menunjukkan bahwa harga dapat turun lagi tergantung pada ekonomi.

"Apakah harga dapat kembali lagi? Kami akan menunggu data ekonomi. Sebagian besar data ekonomi baru-baru ini telah relatif positif," kata Sieminski.

"Saya pikir harga minyak akan menjadi bergelombang untuk enam bulan ke depan, kemudian akan mulai terlihat bergerak naik pada sebagian besar basis konstan."

Pasar saham telah meningkat di tengah optimisme tentang pemulihan ekonomi, dinyatakan dalam bagian naiknya permintaan untuk bahan baku, termasuk minyak mentah.

Beberapa analis memperkirakan bahwa permintaan akan naik sekalipun resesi tetap berlangsung di Amerika Serikat dan negara-negara kaya lainnya. "Musim perjalanan sedang tiba di Amerika dan permintaan untuk gas kemungkinan naik. Ekonomi China tidak tampak melambat sebanyak yang diproyeksikan. Hal itu perlu untuk minyak agar tidak terlalu banyak turun," kata Douglas McIntyre dari 24/7 Wall Street.

"Selanjutnya, jika digabung dengan pelambatan produksi global, kebutuhan bahan bakar fosil akan menjaga harga tinggi tanpa banyak tambahan bantuan," kata dia.

"Kebijakan konvensional adalah minyak tidak dapat naik. Seluruh indikasi di pasar akan menjaga hal itu bergerak naik," kata McIntyre.

Harga minyak juga meningkat karena kerusuhan di wilayah penghasil minyak Delta Niger, yang mengurangi produksi harian Nigeria menjadi 1,76 juta barrel dibandingkan dengan 2,6 juta barrel pada Januari 2006.
    
Militer Nigeria, kepada pers, Selasa, berjanji, untuk menyerang pemberontak Delta Niger yang pada pekan lalu memperbarui serangan kejam mereka pada industri minyak dan gas multi miliaran dollar di negara itu.

Sumber :
Ant